• Jumat, 9 Desember 2022

Gagap Membaca: Waktu yang Tepat Ziarah ke Dalam Diri

- Selasa, 22 November 2022 | 07:27 WIB
PMII adalah organisasi kemahasiswaan terutama untuk para mahasiswa NU dalam menseimbangkan kehidupan berbangsa dan bernegara (www.unisnu.ac.id)
PMII adalah organisasi kemahasiswaan terutama untuk para mahasiswa NU dalam menseimbangkan kehidupan berbangsa dan bernegara (www.unisnu.ac.id)

Multaqomedia.com - Pergerakan adalah pola kehidupan manusia yang terus menerus perlu diolah dan direnungkan kembali tujuannya. Setiap manusia baru pasti memiliki visi dan misi yang berbeda dengan lainnya. Oleh sebab itu, bagaimanapun identitas pergerakan itu pasti bersifat progresif.

Kesadaran progresifitas ini tentu harus menemui sasaran yang tepat. Manhaj berpikirnya juga harus mggenah. Karena ketika manhaj itu sama sekali jauh dari orientasi keberpihakan dan kemaslahatan, justru akan menjauh dari orientasi sebuah pergerakan itu sendiri.

Seperti halnya tafsir, kontekstualisasi itu sangat penting. Ijma' dan qiyas adalah rangkaian penunjang dari membuminya kitab suci dan pesan-pesan Nabi. Hal ini kalau sama sekali tidak ada progresifitas ya njluntrung kemana-mana.

Dalam sebuah pergerakan tentu ada ruang-ruang dialektisnya. Namun disadari atau tidak itu lain hal. Karena memang tidak sedikit yang abai tentang dinamika dan ruang sosial yang terus berubah. Apalagi kalau menyangkut kemaslahatan.

Terkadang kemaslahatan hanya ucapan diujung bibir saja. Tidak sampai ke dalam hati sanubari kita. Seperti halnya yang terjadi belakangan, citra pergerakan itu justru kian surut dalam kacamata realitas sosial.

Buktinya apa? Tidak sedikit warga dunia Maya yang mengecam bahkan mengolok-olok citra pelajar saat ini. Mereka gagah dengan jas almamaternya tetapi keropos dan kering kerontang dalam ruang praksisnya.

Ini problem solving yang harus disadari oleh setiap personal, pun warga pergerakan itu sendiri. Karena semakin tinggi pohon bukan justru semakin sejuk anginnya, tetapi semakin kencang dan mampu mematahkan.

Kepentingan yang dibangun bukan lagi orientasi maqashid assyariah, melainkan kepentingan kelompok bahkan politik identitas kerap menjadi isu yang seksi.

Kalau Cak Nun berpesan tentang instrospeksi diri dari bencana atau peristiwa yang terjadi. Lain hal dengan Gus Dur, ia menyodorkan konsep kesadaran universal melalui gagasan pribumisasi Islamnya.

Halaman:

Editor: Ahmad Dahri

Tags

Terkini

Gagap Membaca: Waktu yang Tepat Ziarah ke Dalam Diri

Selasa, 22 November 2022 | 07:27 WIB

Mendalami Islam dengan Iman, Inilho Dasarnya

Jumat, 11 November 2022 | 19:20 WIB

Cara Menyucikan dan Macam-macam Najisnya

Jumat, 11 November 2022 | 09:11 WIB

Mengambil Manfaat dari Bonus Demografi

Sabtu, 5 November 2022 | 06:17 WIB

Cara Melakukan Tayammum, Yuk Intip di sini

Kamis, 3 November 2022 | 22:46 WIB

Wudhu' yang Baik dan Benar, Berikut Tata Caranya

Kamis, 3 November 2022 | 12:05 WIB

Nasihat Gus Mus, Pandai-Pandai Bermedsos

Kamis, 3 November 2022 | 11:57 WIB

Niat adalah Ibadah Hati, Kok Bisa? Ini Pendapat Ulama

Kamis, 3 November 2022 | 05:07 WIB

Siap-siap Sambut Bonus Demografi 2030

Rabu, 2 November 2022 | 16:35 WIB

Terpopuler

X