• Jumat, 9 Desember 2022

Makna Guru dalam Ruang Sastra

- Minggu, 7 Agustus 2022 | 20:32 WIB
Guru dalan ruang sastra (Pixabay)
Guru dalan ruang sastra (Pixabay)

Multaqomedia - Manusia adalah guru bagi manusia yang lain, pun menjadi murid di sisi yang lain. Begitulah hakikat Pendidikan. Pengasihan terhadap siapapun akan menjadi guru dan murid di sisi yang lainnya. sederhananya manusia di samping menjadi objek, juga menjadi subjek dalam ruang Pendidikan.

Secara substansi, Pendidikan meliputi dua kerangka berpikir; mendampingi dan mengayomi. Hal ini berakar pada pondasi “Sapa nandur, bakal ngunduh”, dalam islam dikenal dengan belajar dan mengajarkan. Pendidikan menjadi sebuah proses saling sapa dan rangkul. Lantas di mana proses pembelajarannya?

Baca Juga: Aswaja dan Gerak Sosial dalam Sudut Pandang Kemajuan Masyarakat

Semakin sering mengayomi dan mendampingi, maka semakin banyak pengetahuan yang muncul, baik bagi pembimbing atau – yang dibimbing. Artinya pengetahuan berada pada pada posisi kedua setelah dominasi etika. Dalam falsafah jawa kita kenal “Unggah-ungguh tinungguling kinaweruh,” bahwa etika lebih tinggi ketimbang kepintaran.

Walaupun demikian, bukan berarti menjadi paradok. Tentu akan menjadi luhur ketikan kawaskitan; antara etika dan pengetahuan saling mengisi satu sama lain. Kasusastraan jawa merekam prinsip dasar seorang guru sebagai laku dan murid sebagai suluknya. Mas Burhanudin atau R. Ranggawarsita memberi gambaran bahwa seorang adalah paramasastra, kang ateges limpating sastra. Bahwa seorang guru adalah ia yang menjadikan riuh suasan batin dan dlahir menjadi ruang yang penuh dengan warna menuju kepada kedewasaan.

Sastra berarti aksiologis sebuah pengetahuan. Ia akan berevolusi sedemikian waktu, dinamis, fleksibel, kedewasaan mental dan kecerdasan baik sikap maupun intelektual. Hal ini biasanya dinamakan spiritualitas oleh para pakar.

Suluk dan laku keguruan adalah proses mengais pengetahuan yang tiada hentinya. Secara substansi, baik guru maupun murid adalah satu kesatuan. Maka ada istilah mulat sarira, guru adalah cermin berjalan di satu sisi, pun teropong yang tajam di sisi yang lain.

Hal ini sejalan dengan apa yang menjadi falsafah Pendidikan dalam ruang lingkup Pendidikan Taman Siswa. Ki Hajjar Dewantara merangkum falsafah yang sebagian besar dari kita sudah mafhum.  Ing Ngarsha Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.  Bahwa Guru bisa memberi contoh, menjadi pendamping, sehingga murid dapata mengamalkan segala ilmu dan nilai-nilai yang diberikan oleh sang guru.

Baca Juga: Pesantren Membaca Realitas Sosial

Halaman:

Editor: Ahmad Dahri

Tags

Terkini

Hikmah Shodaqoh, Bisa Menerangkan Hati yang Pekat

Jumat, 11 November 2022 | 09:05 WIB

Demografi dan Evolusi Pekerjaan

Sabtu, 5 November 2022 | 06:22 WIB

Masih Pentingkah Peran Guru di Era Digital?

Jumat, 4 November 2022 | 12:02 WIB

Wiwitan Tradisi Pertanian, Jangan Sampai Punah!

Kamis, 3 November 2022 | 23:04 WIB

Duka Lara Di Pintu Belakang 2022

Kamis, 3 November 2022 | 22:56 WIB

Pancasila Pemersatu Bangsa

Selasa, 25 Oktober 2022 | 12:20 WIB

Hubungan Antara Agama dan Negara dalam Aspek Pancasila

Selasa, 25 Oktober 2022 | 12:12 WIB

Memaknai dan Menghayati Nilai-Nilai Pancasial

Senin, 24 Oktober 2022 | 10:28 WIB

Ngopi dan Ruang Kebudayaan

Selasa, 11 Oktober 2022 | 23:57 WIB

Makna Guru dalam Ruang Sastra

Minggu, 7 Agustus 2022 | 20:32 WIB

Boleh Bersedih, Tapi Jangan Berlebih

Selasa, 2 Agustus 2022 | 06:17 WIB

Di antara Dua Panorama dan Penjara Hati

Selasa, 26 Juli 2022 | 10:49 WIB

Lobang Neraka, Tulisan Gus Taufiq Wr. Hidayat

Minggu, 24 Juli 2022 | 10:35 WIB

Makna Cinta Menurut Ibnu Arab, Mari Simak!

Kamis, 21 Juli 2022 | 12:50 WIB

Terpopuler

X