MULTAQOMEDIA.COM - Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan dua pria berpenampilan feminin yang ramai disebut "boti" oleh warganet. Dalam rekaman singkat tersebut, salah satu pria secara terbuka mengaku positif HIV dan rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Sementara itu, pasangannya mengaku negatif HIV dan menggunakan PrEP (pre-exposure prophylaxis) sebagai langkah pencegahan. Keduanya tampak memegang botol obat sambil menyampaikan pesan bahwa mereka tetap bisa hidup sehat meskipun memiliki status HIV yang berbeda.
Video berdurasi sekitar satu hingga dua menit ini pertama kali muncul di Instagram dan dengan cepat menyebar ke platform X (Twitter) serta media sosial lainnya. Dalam unggahan tersebut, mereka menekankan pentingnya anti-diskriminasi terhadap pengidap HIV dan menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan perawatan tanpa dikucilkan. Namun, pesan ini justru memicu gelombang kritik keras dari netizen Indonesia.
Astaghfirullah
β πππ€ ππππ©π΄ββοΈ (@CakD3pp) June 7, 2026
Mari kita lindungi keluarga kita, mereka sudah menyebar kemana manaπ’ pic.twitter.com/4v46IraKUi
Reaksi Netizen: Banjir Kritik dan Hujatan
Video ini menuai ribuan komentar, mayoritas bernada negatif dan penuh hujatan. Banyak warganet menilai konten tersebut sebagai bentuk pamer atau bahkan promosi gaya hidup yang dianggap menyimpang dari norma masyarakat.
Berikut beberapa komentar keras yang viral di media sosial:
- "Aura boti nya kuat banget. Terus bangga pula kena HIV π€’"
- "Hanya boti spesies yang bangga mengakui pengidap HIV dengan dalih 'aware dengan kesehatan'."
- "Mereka sendiri yang cari penyakit, akhirnya merepotkan rakyat Indonesia. Pajak kita buat subsidi ARV buat mereka?"
- "Anjing lah, masa ARV jangan dikasih ke boti? Tapi yang kena HIV bukan cuma mereka, ada anak kecil juga korban."
- "Laknat! Lihat kau boti begini bikin mual."
Di sisi lain, ada juga suara yang membela. Beberapa netizen berpendapat bahwa HIV tidak hanya milik satu kelompok tertentu. Diskriminasi justru menghambat pengobatan. Yang terpenting adalah kepatuhan minum ARV agar virus tidak menular. Namun, suara moderat ini kalah ramai dibandingkan dengan hujatan yang beredar.
Kontroversi ini juga memicu perdebatan lebih luas mengenai akses obat ARV yang didanai negara. Sejumlah netizen mempertanyakan apakah pajak rakyat seharusnya membiayai pengobatan bagi kelompok berisiko tinggi. Padahal secara medis, ARV adalah hak semua warga negara yang terinfeksi HIV.
Fakta Medis Singkat tentang HIV dan ARV
Menurut ahli kesehatan, ARV mampu menekan virus HIV hingga tidak terdeteksi dalam darah. Kondisi ini dikenal dengan istilah undetectable equals untransmittable (U=U). Artinya, penderita HIV yang patuh minum obat dapat hidup normal dan tidak menularkan virus kepada pasangannya. Sementara itu, PrEP efektif mencegah penularan HIV hingga 99 persen jika diminum secara rutin.
Sayangnya, stigma terhadap HIV dan komunitas LGBT di Indonesia masih sangat tinggi. Hal ini sering menghambat proses testing dan pengobatan dini. Kasus ini kembali mengingatkan pada tingginya prevalensi HIV di kalangan laki-laki seks sama laki-laki (LSL) di Indonesia. Meskipun demikian, penularan HIV juga terjadi melalui jalur heteroseksual dan dari ibu ke anak.
Artikel ini disusun berdasarkan video viral terkini. Penyebaran konten semacam ini sering memicu polarisasi antara advokasi hak kesehatan dan kritik moral serta budaya.
Bagaimana pendapat Anda? Apakah video seperti ini membantu mengurangi stigma atau justru memperburuknya? Mari diskusikan dengan bijak di kolom komentar.
Artikel Terkait
Partai Republik Mulai Berbalik Arah: Gelombang Pembelotan dari Trump Jelang Pemilu Paruh Waktu
VidMate: Solusi Praktis untuk Mengunduh Video Tanpa Iklan dan Menonton Offline
Warga Tarakan Panik Tsunami: Gempa Mindanao 7,7 Picu Peringatan dan Evakuasi Massal
Viral! SPPG Hentikan Operasional MBG karena Dana BGN Belum Cair