7 Kontroversi Deddy Corbuzier Paling Viral Yang Bikin Publik Heran Sekaligus Misuh-Misuh

- Kamis, 02 Oktober 2025 | 17:40 WIB
7 Kontroversi Deddy Corbuzier Paling Viral Yang Bikin Publik Heran Sekaligus Misuh-Misuh




MULTAQOMEDIA.COM - Deddy Corbuzier selalu sukses bikin publik heboh, bukan cuma karena kariernya tapi juga karena deretan kontroversinya. 


Dari pangkat tituler sampai isu rumah tangga, apa aja sih yang pernah jadi sorotan?


Deddy Corbuzier, yang lahir dengan nama Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo pada 28 Desember 1976, dikenal luas sejak awal sebagai pesulap sebelum beralih menjadi presenter.


Kini, ia pun sukses sebagai YouTuber dengan mendirikan kanal Close The Door


Bahkan, Deddy sudah berhasil menggaet lebih dari 24,9 juta subscriber dengan jutaan penonton setia di setiap episode podcast-nya.


Di balik popularitasnya, Deddy tentu nggak terlepas dari sorotan. 


Mulai dari ucapan soal kesehatan mental, pangkat Letkol Tituler yang sempat menuai polemik, hingga konten podcast yang kontroversial, semuanya membuat namanya kerap jadi bahan perbincangan.


Apa Saja Kontroversi Deddy Corbuzier yang Viral?


1. Podcast dengan Ragil Mahardika dan Diberi Judul “Tutorial Menjadi G4y di Indonesia”


Lewat podcast Close The Door, Deddy Corbuzier pernah menghadirkan Ragil Mahardika sebagai bintang tamu.


Ragil sendiri dikenal sebagai orang Indonesia yang menjalin hubungan sesama jenis di luar Indonesia, yaitu Jerman. 


Sebenarnya, topik ini bisa saja tidak bermasalah apabila dikemas dengan judul dan pembahasan yang lebih edukatif.


Namun, Deddy justru mengunggahnya dengan judul provokatif, yaitu “Tutorial Menjadi G4y di Indonesia”.


Isi kontennya pun lebih banyak menampilkan drama panas alih-alih informasi yang penting.


Tak heran, banyak warganet melayangkan kritik keras. Mereka menilai Deddy hanya memancing kontroversi demi meraup keuntungan dari YouTube.


2. Menghina Orang dengan Gangguan Jiwa


Pada 29 Juni 2021, Deddy Corbuzier sempat mendapatkan somasi dari Organisasi Penyandang Disabilitas Perhimpunan Jiwa Sehat dengan lebih dari 80 orang penyandang disabilitas lainnya.


Hal itu bermula dari Deddy yang menyebut bahwa belum ada satu pun rumah sakit jiwa di seluruh dunia yang terpapar oleh COVID-19, lewat konten podcastnya yang turut mengundang komika Mongol Stres.


Akibatnya, Deddy dianggap telah melakukan penyesatan informasi, fakta, dan data tentang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).


Kemudian, pada Rabu, 30 Juni 2021, Deddy Corbuzier melakukan klarifikasi dan meminta maaf kepada para penyandang disabilitas lewat akun Instagram pribadinya.


3. Berseteru dengan Aldi Taher


Deddy Corbuzier juga pernah berseteru dengan pemeran, pelawak, penyanyi, dan presenter Aldi Taher


Awalnya, Aldi menuding Deddy sekadar mencari sensasi dengan membuat video berbau “mesum” bersama Dinar Candy.


Konflik itu kemudian berlarut-larut karena keduanya saling balas sindiran di media sosial masing-masing dan nggak kunjung mereda.


4. Diangkat Menjadi Letkol Tituler


Deddy cukup dikenal sebagai sosok influencer yang sering menyuarakan dukungan terhadap kebijakan pemerintah di media sosial.


Meski begitu, namanya pernah jadi sorotan ketika ia menerima pangkat Letnan Kolonel Tituler pada 9 Desember 2022. 


Gelar tersebut diberikan langsung oleh Prabowo Subianto saat masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.


Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa Deddy mendapatkan pangkat Letkol Tituler karena dinilai punya kemampuan komunikasi di media sosial yang bisa menjangkau audiens luas.


Meski begitu, keputusan tersebut menimbulkan pro dan kontra, terutama dari Komisi I DPR RI.


Meutya Hafidz, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi I, bahkan mengaku tidak mengetahui adanya pemberian gelar tersebut.


5. Mengkritik Keluhan Siswa Mengenai MBG


Salah satu kontroversi Deddy Corbuzier yang cukup kontroversial adalah ketika dirinya mengkritik seorang siswa yang mengeluh terkait dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).


Pada tahun 2025, Deddy mengunggah video yang berisi opini dia mengenai keluhan MBG. menurutnya, anak-anak perlu bersyukur karena mendapatkan makanan secara cuma-cuma.


Ia juga menggunakan kata-kata kasar, seperti “kurang enak pala lu pea!” yang dianggap sebagai sebuah kekerasan psikologis bagi Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah.


6. Meremehkan Kesehatan Mental Peserta Indonesia’s Next Top Model


Deddy Corbuzier sempat menuai kritik pedas karena dinilai tidak menghargai isu kesehatan mental. 


Hal itu terjadi saat ia menjadi juri di ajang Indonesia’s Next Top Model dan melakukan wawancara dengan salah satu peserta, Danella Ilene.


Dalam momen itu, Deddy sempat berkata, “Kamu cantik, tinggi, seksi, pintar, dan seorang model. 


Kalau kamu merasa depresi, sama saja seperti merendahkan tukang martabak yang berjualan di depan rumah saya.”


Setelah itu, Ilene menjelaskan bahwa ia memang pernah didiagnosis mengalami eating disorder atau gangguan makan.


Menanggapi kritikan pedas dari netizen, Deddy kemudian memberikan klarifikasi bahwa cuplikan video yang beredar hanyalah potongan sehingga menimbulkan salah tafsir.


Ia juga menyampaikan permintaan maaf jika ucapannya menyinggung orang-orang yang tengah berjuang dengan depresi atau masalah kesehatan mental.


7. Berseteru dengan Livy Renata


Deddy Corbuzier juga sempat berseteru dengan influencer dan selebriti internet, Livy Renata


Hal ini bermula dari Livy yang mengaku memiliki pengalaman kurang menyenangkan saat menjadi bintang tamu dalam acara podcast Deddy.


Menurut Livy, cara bicara Deddy dianggap kasar yang membuatnya merasa tidak nyaman. 


Selain itu, ia juga mengkritik Deddy yang kerap mempertanyakan keperawanan sahabat Livy, Catheez, secara tidak sopan.


Sumber: Inilah

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Heboh Yusa Cahyo Utomo Donorkan Organ Tubuh Usai Divonis Mati PN Kediri, Ini Alasan dan Sosoknya Tayang: Sabtu, 16 Agustus 2025 08:53 WIB Tribun XBaca tanpa iklan Editor: Valentino Verry zoom-inHeboh Yusa Cahyo Utomo Donorkan Organ Tubuh Usai Divonis Mati PN Kediri, Ini Alasan dan Sosoknya Tribunjatim.com/Isya Anshari A-A+ INGIN DONOR ORGAN TUBUH - Yusa Cahyo Utomo, terdakwa pembunuh satu keluarga, divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (13/8/2025) siang. Yusa mengaku menyesali perbuatannya dan berkeinginan menyumbangkan organ tubuhnya kepada sang keponakan yang masih hidup, sebagai bentuk penebusan kesalahan. WARTAKOTALIVE.COM, KEDIRI - Jika seorang terdakwa dijatuhi vonis mati biasanya tertunduk lesu, ada pula yang menangis. Lain halnya dengan Yusa Cahyo Utomo, terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga di Kediri, Jawa Timur. Tak ada penyesalan, bahkan dia sempat tersenyum kepada wartawan yang mewancarainya usai sidang vonis oleh Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Rabu (13/8/2025). Dengan penuh percaya diri, Yusa Cahyo Utomo ingin mendonorkan organ tubuhnya usai dijatuhi vonis mati oleh majelis hakim. Baca juga: Alasan Pembunuh Satu Keluarga Tak Habisi Anak Bungsu, Mengaku Kasihan Saat Berusaha Bergerak Tentu ini cukup aneh, namun niat Yusa Cahyo Utomo ini ternyata ada makna yang besar. Donor organ tubuh adalah proses yang dilakukan untuk menyelamatkan atau memperbaiki hidup penerima organ yang mengalami kerusakan atau kegagalan fungsi organ. Biasanya, orang akan secara sukarela menyumbangkan organ tubuhnya untuk ditransplantasikan kepada orang lain yang membutuhkan. Saya berpesan, nanti di akhir hidup saya, bisa sedikit menebus kesalahan ini (membunuh) dengan menyumbangkan organ saya, ucapnya dilansir TribunJatim.com. Baca juga: Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Kediri Ternyata Masih Saudara Sendiri, Ini Motfinya Kalau saya diberikan hukuman mati, saya siap menyumbangkan semua organ saya, apapun itu, imbuhnya. Yusa Cahyo Utomo merupakan warga Bangsongan, Kecamatan Kayen, Kabupaten Kediri. Ia adalah seorang duda cerai dengan satu anak. Yusa merupakan pelaku pembunuhan terhadap satu keluarga di Dusun Gondang Legi, Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada Desember 2024. Yusa menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri) Agus Komarudin (38) dan Kristina (34), beserta anak sulung, CAW (12). Anak bungsu korban, SPY (8), ditemukan selamat dalam kondisi luka serius. Yusa mengaku ia tak tega menghabisi nyawa SPY karena merasa kasihan. Tersangka meninggalkannya dalam kondisi bernapas. Alasannya dia merasa kasihan pada yang paling kecil, ungkap AKP Fauzy Pratama yang kala itu menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Kediri, masih dari TribunJatim.com. Hubungan Yusa dengan korban Kristina adalah kakak adik. Pelaku merupakan adik kandung korban. Namun, sejak kecil, Yusa diasuh oleh kerabat lainnya di Bangsongan, Kecamatan Kayen. Selama itu, Yusa tak pernah mengunjungi keluarganya yang ada di Pandantoyo, Kecamatan Ngancar. Dikutip dari Kompas.com, motif Yusa menghabisi Kristina dan keluarganya karena masalah utang dan rasa sakit hati. Yusa memiliki utang di sebuah koperasi di Kabupayen Lamongan sebanyak Rp12 juta dan kepada Kristina senilai Rp2 juta. Karena Yusa tak memiliki pekerjaan dan utangnya terus menumpuk, ia pun memutuskan bertemu Kristina untuk meminjam uang. Kristina menolak permintaan Yusa sebab sang adik belum melunasi utang sebanyak Rp2 juta kepadanya. Penolakan itu kemudian memicu rasa sakit hati bagi Yusa hingga merencanakan pembunuhan terhadap Kristina dan keluarganya. Buntut aksi kejamnya, Yusa tak hanya divonis mati, pihak keluarga juga enggan menerimanya kembali. Sepupu korban dan pelaku, Marsudi (28), mengungkapkan pihak keluarga tak akan menerima kepulangan Yusa. Keluarga sudah enggak mau menerima (jika pelaku pulang), ungkapnya. Kronologi Pembunuhan Rencana pembunuhan oleh Yusa Cahyo Utomo terhadap Kristina dan keluarganya berawal dari penolakan korban meminjami uang kepada pelaku, Minggu (1/12/2024). Sakit hati permintaannya ditolak, Yusa kembali ke rumah Kristina pada Rabu (4/12/2024) dini hari pukul 3.00 WIB. Ia menyelinap ke dapur di bagian belakang rumah dan menunggu Kristina keluar. Saat Kristina keluar, Yusa lantas menghabisi nyawa kakak kandungnya itu menggunakan palu. Suami Kristina, Agus, mendengar suara teriakan sang istri dan keluar untuk mengecek. Nahas, Agus juga dibunuh oleh Yusa. Aksi Yusa berlanjut dengan menyerang anak Kristina, CAW dan SPY. Namun, ia membiarkan SPY tetap hidup sebab merasa kasihan. Usai melancarkan aksinya, Yusa membawa barang berharga milik korban, termasuk mobil dan beberapa telepon genggam. Ia kemudian kabur ke Lamongan dan berhasil ditangkap pada Kamis (5/12/2025). Atas perbuatannya, Yusa dijatuhi vonis mati buntut pembunuhan berencana terhadap Kristina dan keluarga. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Yusa Cahyo Utomo dengan hukuman mati, kata Ketua Majelis Hakim, Dwiyantoro dalam sidang putusan yang berlangsung di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Rabu (13/8/2025), pukul 12.30 WIB, masih dikutip dari TribunJatim.com.

Terkini