Hingga tabuh talo balak (gamelan Lampung) berhenti, Jokowi memilih diam. Mantan wali kota Solo itu irit bicara, tidak memberikan satu patah kata pun mengenai makna spiritual dari ritual yang baru dilakukannya. Pihak panitia dan pemangku Kedaton Keagungan juga belum merilis keterangan filosofis resmi. Ruang hampa informasi ini kemudian digoreng netizen dan pengamat menjadi bola liar.
Bagi publik, setiap gerak-gerik Jokowi pasca-lengser dari kursi RI-1 selalu dinilai memiliki bobot politik tinggi. Di tengah dinamika politik nasional yang masih berporos pada dirinya, simbol sekecil apa pun—apalagi seekstrim menginjak kepala kerbau—hampir mustahil dibaca sebagai ketidaksengajaan. Ada yang mengaitkannya dengan simbol penaklukan ego, ada pula yang membacanya dengan kacamata kekuasaan.
Penghormatan dari Lima Kerajaan
Di luar spekulasi yang menggelinding, prosesi adat ini merupakan panggung penghormatan tertinggi dari masyarakat adat Lampung. Kehadiran lima kerajaan adat di Kedaton Keagungan menegaskan posisi penting Jokowi sebagai tokoh nasional yang berjasa bagi konstelasi kebangsaan. Suasana khidmat membungkus seluruh rangkaian acara yang dihadiri penyimbang adat senior, tokoh masyarakat, elite lokal Lampung, serta pegiat dan pelestari budaya Nusantara.
Namun, sejarah mencatat bahwa yang tak biasa akan selalu mengalahkan yang biasa. Gelar adat yang disandang kini harus berbagi panggung dengan teka-teki kepala kerbau. Apakah ritual menginjak kepala kerbau mengandung pesan tertentu? Hingga kini, jawabannya masih menunggu penjelasan resmi dari pemangku adat maupun Joko Widodo sendiri. Yang pasti, momen singkat itu telah menjadi bagian paling banyak dibicarakan dari seluruh rangkaian prosesi adat di Kedaton Keagungan.
Artikel Terkait
Jokowi Batal Hadiri Kirab Budaya di Lampung Timur karena Penolakan Panitia, Begini Kronologi Lengkapnya
Jokowi Blusukan ke Lampung Pakai Atribut PSI, PDIP Sebut Ini Kampanye Politik 2029
Jokowi Terima Gelar Baginda Pemuka Bangsa, Netizen Justru Ramai Sindir Korupsi
Gerindra Santai Tanggapi Blusukan Jokowi dan Kaesang, Tepis Wacana Prabowo-Gibran Dua Periode