Palestina, lanjut dia, tidak butuh janji dan kata-kata lagi, melainkan tindakan konkret untuk membebaskannya dari penderitaan yang diciptakan Israel dan Amerika Serikat (AS).
"Kita sudah cukup bicara, saatnya bagi pedang kebebasan atau kematian Bolívar," kata Petro.
Menurut Petro, setelah Palestina bisa saja Israel menargetkan negara lain yang menentang sikapnya. Petro juga mengaitkan kehadiran militer AS di Karibia dengan dalih untuk memerangi kejahatan narkoba.
"Mereka tidak hanya akan mengebom Gaza, bukan hanya Karibia, seperti yang telah mereka lakukan, tapi seluruh umat manusia yang menuntut kebebasan," tuturnya.
Dia menuduh AS dan NATO sedang beruaha membunuh demokrasi serta membantu menghidupkan kembali tirani dan totalitarianisme dalam skala global
Sumber: inews
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan