Sementara itu, militer Israel mengeluarkan pernyataan yang mendukung ancaman Trump. "Pasukan kami akan mengejar siapa pun yang berupaya menunjuk pengganti Pemimpin Tertinggi Iran," tulis pernyataan resmi mereka, menegaskan bahwa perang mungkin berlanjut hingga Iran tidak memiliki kepemimpinan yang efektif.
Eskalasi Serangan dan Korban Jiwa
Ancaman tersebut disampaikan bersamaan dengan intensifikasi serangan udara gabungan AS-Israel. Pada hari yang sama, fasilitas minyak di Tehran, termasuk kilang minyak dan depot penyimpanan, menjadi sasaran serangan yang memicu kebakaran besar.
Serangan ini menewaskan sedikitnya empat orang dan merupakan kali pertama fasilitas energi Iran dihantam sejak perang dimulai sembilan hari sebelumnya. Data korban jiwa sementara menunjukkan lebih dari 1.300 orang tewas di Iran dan sekitar 300 orang di Lebanon.
Latar Belakang Perang AS-Israel vs Iran
Ketegangan memuncak setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah putaran perundingan nuklir di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa kesepakatan.
AS dan Israel secara konsisten menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, klaim yang selalu ditolak Tehran yang menyatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai. Eskalasi militer sebelumnya terjadi pada Juni 2025 ketika AS menyerang fasilitas nuklir Iran untuk mendukung operasi Israel.
Menyusul serangan terbaru pada akhir Februari 2026, Iran secara resmi menarik diri dari seluruh proses perundingan selama agresi AS-Israel terus berlangsung. Situasi kini memasuki babak baru dengan ditetapkannya kepemimpinan baru di Tehran di bawah ancaman militer yang terus berlanjut.
Artikel Terkait
Iran Luncurkan Rudal ke Israel: Operasi True Promise IV, Dampak & Analisis Terkini 2024
Trump Bingung Akhiri Perang AS-Iran? Utusan Khusus Tak Tahu Akhir Konflik
Putra Menteri Israel Bezalel Smotrich Terluka Parah Diserang Hizbullah: Kronologi & Dampaknya
Iran Klaim Kuasai Akhir Perang, Tanggapi Keras Ancaman Trump Soal Selat Hormuz