Klaim ini memunculkan ironi yang dalam. Iran, sebagai negara teokrasi, dikenal dengan hukum yang keras terhadap homoseksualitas. Organisasi HAM Hengaw bahkan mengklasifikasikan Iran sebagai negara "Gender Apartheid".
Diperkirakan 4.000 hingga 6.000 individu LGBTQ telah dieksekusi sejak Revolusi 1979. Naiknya Mojtaba di tengah rumor ini dianggap sebagai bentuk kemunafikan oleh banyak pengamat.
Klaim Trump sebagai Presiden Republik Paling Dicintai Kaum Gay
Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyoroti peta politik domestik AS. Dengan gaya khasnya, ia mengklaim dirinya sebagai presiden Republik yang paling dicintai komunitas gay.
"Saya mendapatkan suara yang sangat baik dari kaum gay. Saya bahkan memainkan lagu Y.M.C.A dari Village People sebagai penutup kampanye saya," ujar Trump. Ia menambahkan, fakta tentang Mojtaba bisa menjadi "bumerang" mematikan bagi rezim Teheran.
Dampak dan Implikasi Politik Ke Depan
Pembocoran laporan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang dampaknya terhadap stabilitas politik Iran dan hubungan internasional. Dunia kini menanti apakah "rahasia terbuka" ini akan menggerus legitimasi Mojtaba Khamenei atau justru memicu gelombang penindasan yang lebih besar terhadap minoritas seksual di Iran untuk menutupi aib.
Analis politik memprediksi isu ini akan terus digunakan sebagai alat tekanan diplomatik oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap pemerintahan Teheran.
Artikel Terkait
Israel Tahan dan Siksa 430 Aktivis Global Sumud Flotilla di Pelabuhan Ashdod
Menteri Radikal Israel Rilis Video Penyiksaan Aktivis Global Sumud Flotilla, Tangan Diikat dan Dahi Menempel ke Lantai
PLTN Barakah UEA Diserang Drone dari Irak, Iran Tuding Israel Dalang Serangan
Trump Klaim AL dan AU Iran Hancur Total, Operasi Epic Fury Sukses Lumpuhkan Militer Teheran