MULTAQOMEDIA.COM - Presiden Prabowo Subianto mengungkap praktik underinvoicing yang dinilai telah menggerogoti kekayaan negara selama puluhan tahun. Praktik pelaporan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya ini disebut menjadi penyebab utama kebocoran penerimaan negara yang sangat besar.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Prabowo saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 dalam rapat paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia sejatinya memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Hal ini terlihat dari nilai ekspor nasional yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan impor.
Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), total keuntungan ekspor Indonesia selama 22 tahun mencapai 436 miliar dolar AS. Namun, ironisnya, sekitar 343 miliar dolar AS dari jumlah tersebut justru mengalir keluar dari Indonesia. Akibatnya, penerimaan negara tidak berjalan optimal.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri