Menanggapi serangan tersebut, Iran mengambil langkah eskalatif dengan kembali menghentikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia. Teheran juga mengancam akan mengenakan biaya transit hingga $2 juta per kapal.
Wakil Presiden AS, JD Vance, membalas dengan peringatan keras bahwa jika Iran tidak membuka kembali selat, AS tidak akan lagi mematuhi gencatan senjata. "Jika mereka tidak memenuhi bagian mereka, akan ada konsekuensi serius," ujarnya.
Eskalasi Militer dan Ultimatum IRGC
Situasi kian memanas dengan laporan serangan balasan:
- Kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, dilaporkan terkena serangan.
- Kuwait mencegat 28 drone, sementara Arab Saudi menjatuhkan 9 drone yang diduga berasal dari Iran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan sedang menyiapkan balasan yang "akan membuat menyesal" terhadap Israel dan memperingatkan AS untuk menghentikan agresi di Lebanon.
Nasib Perdamaian Bergantung pada Pertemuan Islamabad
Nasib gencatan senjata kini bergantung pada pembicaraan tingkat tinggi yang dijadwalkan di Islamabad, Pakistan, pada 10 April 2026. Namun, jalan damai terhambat oleh syarat tegas Iran: mereka mengancam tidak akan hadir jika serangan di Lebanon tidak dihentikan dan kendali atas Selat Hormuz tidak diakui. AS bersikeras kedua isu tersebut bukan bagian dari kesepakatan awal.
Dengan moncong senjata yang masih panas dan blokade di jalur minyak vital, dunia menanti apakah diplomasi masih memiliki celah atau konflik terbuka akan kembali meletus.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Beirut Tewaskan 112 Jiwa: Gencatan Senjata Dipertanyakan
Rusia Bongkar Proyek Senjata Nuklir Rahasia Uni Eropa: Jerman Bisa Produksi dalam Minggu
Iran Buka Rute Alternatif Selat Hormuz: Ancaman Ranjau Laut & Dampak Global
Analisis Ultimatum Trump ke Iran 2026: Ketegangan Selat Hormuz & Dampak Global