Di sisi lain, Iran secara konsisten membantah memiliki tujuan untuk mengembangkan senjata nuklir. Pihaknya mendesak AS mengizinkan program pengayaan uranium untuk tujuan sipil, seperti energi, yang diawasi oleh badan internasional, sebagaimana hak negara lain.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengkonfirmasi kegagalan perundingan. Meski ada kesepahaman di beberapa poin, perbedaan pada dua atau tiga isu kunci membuat pembicaraan mentok.
"Pandangan kami berbeda pada isu-isu penting, dan pada akhirnya pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan," ujar Baghaei. Meski tidak merinci, dia menyebut perundingan mencakup isu Selat Hormuz, program nuklir, ganti rugi, pencabutan sanksi, dan penyelesaian konflik regional.
Dampak dan Prospek Ke Depan
Kegagalan perundingan damai AS-Iran ini diperkirakan akan mempertahankan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Tidak adanya titik terang dalam isu nuklir menunjukkan bahwa jalan menuju normalisasi hubungan diplomatik antara kedua negara masih panjang dan penuh hambatan.
Komunitas internasional kini menunggu langkah selanjutnya dari kedua pihak, apakah akan ada pertemuan lanjutan atau justru diikuti dengan eskalasi politik dan ekonomi yang lebih jauh.
Artikel Terkait
Klaim AS vs Bantahan Iran Soal Ranjau Selat Hormuz: Analisis Dampak & Fakta Terkini
Pertemuan Bersejarah JD Vance dengan Iran di Islamabad: Kontak Tertinggi AS-Iran Sejak 1979
Iran Siap Perang Panjang 6 Bulan Hadapi AS & Israel: Produksi Rudal & Drone Meningkat
Hizbullah Serang Israel Utara dengan Roket dan Drone: Iron Dome Bobol? Analisis Lengkap