Pernyataan ini menanggapi pengumuman AS yang akan memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas kapal dari pelabuhan Iran mulai 13 April 2026. Komando Pusat AS menegaskan blokade hanya berlaku untuk kapal menuju pelabuhan Iran, sementara jalur internasional di Selat Hormuz tetap terbuka.
Isu Inti dan Dampak Global
Perundingan yang gagal masih berkutat pada isu-isu lama seperti program nuklir Iran, pencabutan sanksi, dan konflik regional. AS menuntut jaminan Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menilai Washington mencoba memaksakan kemenangan diplomatik.
Ketegangan ini langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak dunia melonjak tajam, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, salah satu jalur minyak paling vital di dunia.
Prospek ke Depan dan Peringatan Internasional
Meski situasi memanas, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan peluang kesepakatan masih terbuka jika AS menghentikan pendekatan "totalitarianisme." Namun, mantan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengingatkan bahwa kesepakatan nuklir 2015 membutuhkan waktu 12 tahun, menunjukkan kompleksitas dan lamanya proses diplomatik seperti ini.
Kegagalan negosiasi ini meninggalkan ketidakpastian besar bagi stabilitas kawasan dan ekonomi global, dengan pasar energi terus memantau setiap perkembangan lebih lanjut.
Artikel Terkait
Tragedi Pasar Jilli Nigeria: 200 Warga Sipil Tewas Diduga Kena Serangan Udara Militer
Iran Ancam AS dengan Pusaran Maut di Selat Hormuz: Blokade Trump & Dampak Harga Minyak
Blokade AS ke Pelabuhan Iran 13 April 2026: Dampak & Respons Iran
Israel Siap Gempur Iran Lagi: Persiapan Militer Dimulai Usai Negosiasi AS Gagal