Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Washington mengaitkan kebijakan tarif dengan peran militer AS yang disebut telah menjaga keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Jalur vital ini mengalirkan sekitar 20 persen suplai minyak dunia, menjadikannya titik strategis dalam dinamika geopolitik global.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa Selat Hormuz telah kembali terbuka dan mencatat pergerakan minyak dalam jumlah besar dalam 24 jam terakhir. Namun, klaim ini bertolak belakang dengan pernyataan pihak militer Iran yang menyatakan rencana penutupan kembali jalur tersebut. Pihak Iran melalui komando militer Khatam al-Anbiya menuding AS gagal memenuhi komitmen dalam kesepakatan awal dan menilai gencatan senjata telah dilanggar. Sementara itu, militer AS membantah klaim penutupan kembali Selat Hormuz.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan