Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Washington mengaitkan kebijakan tarif dengan peran militer AS yang disebut telah menjaga keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Jalur vital ini mengalirkan sekitar 20 persen suplai minyak dunia, menjadikannya titik strategis dalam dinamika geopolitik global.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa Selat Hormuz telah kembali terbuka dan mencatat pergerakan minyak dalam jumlah besar dalam 24 jam terakhir. Namun, klaim ini bertolak belakang dengan pernyataan pihak militer Iran yang menyatakan rencana penutupan kembali jalur tersebut. Pihak Iran melalui komando militer Khatam al-Anbiya menuding AS gagal memenuhi komitmen dalam kesepakatan awal dan menilai gencatan senjata telah dilanggar. Sementara itu, militer AS membantah klaim penutupan kembali Selat Hormuz.
Artikel Terkait
AS Setuju Bayar Ganti Rugi Rp5,3 Kuadriliun ke Iran: Ini 14 Poin Perjanjian Damai Bersejarah
Trump Mau Pecat Menhan dan Dirut CIA yang Tolak Perdamaian dengan Iran
Iran Ancam Serang Balik Israel Jika Serangan ke Lebanon Tak Dihentikan, Perjanjian Damai AS-Iran Terancam Gagal
Donald Trump Kecam Aksi Militer Israel di Lebanon: Tanpa AS, Tidak Akan Ada Israel