Bagian paling mencengangkan: Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas'ud alias Hamas, justru tidak ada di tempat. Katanya lagi retret di Magelang. Saat rakyat mendobrak pagar, beliau malah "healing". Ini bukan lagi absen, ini strategi ninja: menghilang saat keadaan genting. Rakyat datang dengan amarah, dijawab dengan ketenangan batin. Sinkron? Jelas tidak.
Yang tersisa di gedung hanya perwakilan yang mengulang mantra klasik: "kami menghargai aspirasi." Kalimat yang jika dikumpulkan sejak dulu, mungkin sudah menjadi monumen kebohongan nasional.
Malam semakin gelap, tapi massa tetap terang. Mereka sadar, jika lengah sedikit, tuntutan bisa dikubur diam-diam seperti file korup yang sengaja dihapus. Mereka berdiri bukan hanya melawan pagar, melainkan melawan tradisi lama: politik yang lebih cepat lari daripada tanggung jawab.
Hari ini rakyat Kaltim membuktikan satu hal: kawat berduri bisa ditembus, pagar besi bisa dihancurkan. Tapi yang paling sulit dijebol ternyata bukan itu, melainkan mental elite yang alergi pada kejujuran. Rakyat berhasil masuk ke halaman DPRD, tapi DPRD sendiri sepertinya sudah keluar duluan – minimal secara mental, ketuanya secara fisik.
Tinggal satu pertanyaan menggantung seperti janji kampanye: jika rakyat terus datang, apakah wakil rakyat akan terus pergi? Atau nanti sekalian gedung itu dikunci dari dalam, biar benar-benar menjadi museum janji kosong?
Artikel Terkait
Said Didu Jenguk Roy Suryo dan Dokter Tifa di Polda Metro Jaya, Begini Kondisi Terbaru Kedua Tersangka Kasus Ijazah Palsu Jokowi
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda Usai Cek Kesehatan, Kondisi Lemas Usai Diperiksa di RS Polri
Refly Harun Murka! Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksa Pakai Rompi Oranye, Dianggap Kriminal
Jokowi Buka Suara soal Roy Suryo dan dr Tifa Ditangkap: Saya Siap Bawa Ijazah Asli ke Sidang