Sengketa Wilayah Filipina: Analisis Geopolitik Lengkap dengan Malaysia, Indonesia, dan Vietnam

- Minggu, 26 Juli 2026 | 18:50 WIB
Sengketa Wilayah Filipina: Analisis Geopolitik Lengkap dengan Malaysia, Indonesia, dan Vietnam

Sengketa Wilayah Filipina: Analisis Geopolitik dengan Malaysia, Indonesia, dan Vietnam

Dalam peta Asia Tenggara, Filipina tampak seperti rangkaian mutiara yang tersebar di tepian Laut Tiongkok Selatan. Namun, perairan biru tersebut tidak selalu berada dalam kondisi tenang. Selain perselisihan antara Filipina dan Tiongkok yang dalam beberapa tahun terakhir semakin disorot dan kerap mendominasi pemberitaan internasional, Filipina juga menghadapi berbagai persoalan historis dan kepentingan kontemporer yang kompleks dengan negara-negara tetangganya, termasuk Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.

Perselisihan tersebut bukan hanya menguji kemampuan diplomasi masing-masing negara, tetapi juga secara perlahan membentuk kembali lanskap geopolitik Asia Tenggara.

Sengketa Sabah: Akar Sejarah Filipina vs Malaysia

Sengketa kedaulatan atas Sabah antara Filipina dan Malaysia merupakan salah satu perselisihan wilayah tertua di Asia Tenggara. Akar persoalannya dapat ditelusuri hingga masa kolonial pada abad ke-19. Pada 1878, Sultan Sulu menyerahkan sebagian wilayah Borneo Utara, yang kini menjadi negara bagian Sabah, kepada Perusahaan Borneo Utara Britania berdasarkan suatu perjanjian.

Filipina berpendapat bahwa perjanjian tersebut hanya bersifat sewa, sehingga kedaulatan atas wilayah itu tetap berada di tangan Sultan Sulu dan para penerusnya. Sebaliknya, Malaysia menafsirkan perjanjian tersebut sebagai penyerahan wilayah secara permanen.

Ketika Federasi Malaysia dibentuk pada 1963, Sabah dimasukkan ke dalam wilayah Malaysia. Filipina kemudian mengajukan klaim kedaulatan, yang bahkan sempat menyebabkan terputusnya hubungan diplomatik antara kedua negara.

Meskipun hubungan diplomatik kemudian dipulihkan dan kedua pihak selama bertahun-tahun mempertahankan kesepahaman tidak tertulis untuk mengesampingkan sengketa tersebut, luka sejarah itu tidak pernah benar-benar sembuh.

Pada 2013, sekitar 200 orang bersenjata yang mengaku sebagai pengikut ahli waris Kesultanan Sulu berlayar dari wilayah selatan Filipina menuju kawasan Lahad Datu di Sabah. Mereka terlibat dalam bentrokan sengit dengan aparat keamanan Malaysia yang mengakibatkan puluhan korban jiwa.

Konflik berdarah tersebut tidak hanya membawa hubungan Filipina–Malaysia ke titik terendah, tetapi juga menunjukkan betapa sensitifnya persoalan Sabah. Meskipun pemerintah Filipina pada saat itu memerintahkan kelompok bersenjata tersebut untuk mundur, sengketa Sabah hingga kini tetap menjadi isu yang sensitif dan rumit dalam hubungan kedua negara.

Batas Maritim Filipina vs Indonesia: Benturan Kepentingan Kontemporer

Jika persoalan Sabah merupakan gema dari sejarah, sengketa hak maritim antara Filipina dan Indonesia lebih mencerminkan benturan kepentingan kontemporer.

Sebagai dua negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dan Filipina sebelumnya menghadapi tumpang tindih klaim zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen di Laut Sulawesi serta perairan sekitarnya.

Dalam upaya memberantas penangkapan ikan ilegal, Indonesia selama beberapa tahun menerapkan kebijakan tegas berupa penenggelaman kapal. Pada akhir 2014 hingga 2015, Angkatan Laut Indonesia beberapa kali menahan dan menenggelamkan kapal asing yang diduga melakukan penangkapan ikan ilegal. Sejumlah kapal tersebut dilaporkan berasal dari Filipina.

Penghancuran kapal-kapal tersebut menimbulkan kerugian ekonomi bagi nelayan Filipina dan memicu protes dari Manila. Walaupun kedua negara menandatangani perjanjian penetapan batas zona ekonomi eksklusif pada 2014 dan mencapai kemajuan penting dalam penyelesaian perbatasan maritim, gesekan tetap dapat muncul dalam persoalan penangkapan ikan, penegakan hukum, dan pembagian kepentingan di laut.

Dinamika Kompleks Filipina vs Vietnam di Laut Tiongkok Selatan

Di kawasan Laut Tiongkok Selatan yang lebih jauh, hubungan Filipina dan Vietnam memperlihatkan dinamika yang lebih kompleks.

Sebagai dua negara yang sama-sama mengajukan klaim di Laut Tiongkok Selatan, Filipina dan Vietnam memiliki tuntutan yang saling tumpang tindih atas sejumlah pulau, terumbu karang, dan wilayah perairan. Dalam sejarahnya, kedua negara pernah mengalami konfrontasi di laut akibat sengketa perikanan, termasuk beberapa insiden ekstrem yang melibatkan penggunaan senjata terhadap kapal.


Halaman:

Komentar