Refly Harun Sebut Gibran Hanya Nyaman Bersama Relawan Jokowi, Kalah Telak Banding AHY

- Selasa, 12 Agustus 2025 | 13:25 WIB
Refly Harun Sebut Gibran Hanya Nyaman Bersama Relawan Jokowi, Kalah Telak Banding AHY


Momen Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka tidak menyalami Menko Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendadak jadi sorotan.

Pasalnya, hal itu bak menunjukkan hubungan keduanya sedang tidak baik – baik saja. Menurut Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun, Gibran hanya nyaman dengan lingkupnya saja, seperti para pendukung ayahnya, Joko Widodo.

“Kenapa Gibran tidak menyalami AHY, tidak menyalami Zulkifli Hasan, Pratikno dan Menteri – Menteri senior?,” ujar Refly, dikutip dari youtubenya, Selasa (12/8/25).

“Begini, ini secara psikologis ya, Gibran ini hanya nyaman kalau berada di relawan Jokowi, dikolamnya sendiri,” tambahnya.

Refly Harun menganalisa bahwa secara mentalitas, Gibran hanya nyaman ketika berada dilingkarannya sendiri.

“Secara mentalitas ini analisis saya, dia hanya nyaman berada diwilayahnya sendiri,” ucapnya.

“Kalau misalnya dekat dengan relawan Jokowi, relawan bapaknya, dia akan nyaman,” imbuhnya.

Menurut Refly, Ketika Gibran bertemu dengan AHY, dan Menteri-menteri senior lainnya, Gibran tidak melihat bahwa mereka adalah anak buahnya.

“Tapi ketika dia bertemu dengan Agus Harimurti Yudhoyono, dia tidak melihat bahwa AHY adalah anak buah dia. Bertemu Pratikno, bertemu Zulkifli Hasan, dia tidak melihat bahwa mereka- mereka ini adalah anak buah wakil presiden,” urainya.

“Yang dia lihat adalah mereka ini orang – orang yang lebih senior dari dia, lebih berpengalaman dari dia kalau untuk Pratikno dan Zulkifli Hasan,” sambungnya.

Refly beranggapan bahwa seharusnya Gibran dan AHY ini dapat menciptakan suasana yang cair.

Pasalnya, keduanya merupakan anak muda yang sama – sama anak dari presiden.

Namun menurut Refly, Gibran merasa tidak lebih hebat dari AHY, sehingga merasa minder.

“Tapi untuk AHY, ini orang yang sesungguhnya sama – sama muda, sama – sama anak presiden. Tapi dia jauh lebih hebat dari pada gue, haha,” ujar Refly dengan nada meledek.

“Semuanya, mulai dari fisiknya, wajahnya, kemudian otaknya, kemampuan berbahasa inggrisnya, gesturenya dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Refly menilai jika kepercayaan diri yang dimiliki oleh AHY sangat tinggi karena diturunkan dari ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sementara Gibran, memiliki ketidakpercayaan yang tinggi pula. Refly menyebut hal itu diturunkan dari Jokowi.

“Jadi AHY, orang yang mewarisi kepercayaan diri SBY,” ujarnya.

“Kemudian kalau Gibran orang yang memiliki ketidakpercayaan ayahnya juga,” tambahnya.

Refly mengatakan bahwa seorang AHY benar-benar mengikuti gaya dan pola komunikasi SBY yang begitu teratur.

Dari segi percaya diri, penampilan fisiknya, gesturenya, hingga kemampuan berbahasa AHY patut diacungi jempol menurut Refly.

Sementara Gibran, menurut Refly hampir tidak memiliki itu semua. Secara intelektual, menurut Refly Gibran tidak percaya diri.

“Seorang AHY, itu betul – betul mengikuti gaya dan pola komunikasi SBY, teratur dan lain sebagainya. Apakah baik semuaba? Belum tentu juga, tetapi dia paling tidak kalau untuk dipanggung – panggung nasional, dia memiliki kepercayaan termasuk panggung internasional, dengan penampilannya, dengan bodynya, dengan gesturenya, dengan gaya jalannya, semua dia percaya diri. Karena dia secara fisik oke, secara intelektual oke,” urainya.

“Gibran? Tidak memiliki itu. Secara fisikpun dia berjalan tidak percaya diri, secara intelektual dia tidak percaya diri juga,” tambahnya.

Sehingga Refly menyimpulkan bahwa saat itu Gibran tidak menyalami AHY lantaran merasa tidak nyaman, dimana AHY dianggap sebagai orang yang lebih senior.

“Mangkanya dalam acara seperti itu, dia (Gibran) tidak nyaman sesungguhnya. Karena dia berhadapan dengan orang – orang yang jauh lebih senior,” ucapnya.


Sumber: suara
Foto: Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan AHY. (Instagram)

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Heboh Yusa Cahyo Utomo Donorkan Organ Tubuh Usai Divonis Mati PN Kediri, Ini Alasan dan Sosoknya Tayang: Sabtu, 16 Agustus 2025 08:53 WIB Tribun XBaca tanpa iklan Editor: Valentino Verry zoom-inHeboh Yusa Cahyo Utomo Donorkan Organ Tubuh Usai Divonis Mati PN Kediri, Ini Alasan dan Sosoknya Tribunjatim.com/Isya Anshari A-A+ INGIN DONOR ORGAN TUBUH - Yusa Cahyo Utomo, terdakwa pembunuh satu keluarga, divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (13/8/2025) siang. Yusa mengaku menyesali perbuatannya dan berkeinginan menyumbangkan organ tubuhnya kepada sang keponakan yang masih hidup, sebagai bentuk penebusan kesalahan. WARTAKOTALIVE.COM, KEDIRI - Jika seorang terdakwa dijatuhi vonis mati biasanya tertunduk lesu, ada pula yang menangis. Lain halnya dengan Yusa Cahyo Utomo, terdakwa kasus pembunuhan satu keluarga di Kediri, Jawa Timur. Tak ada penyesalan, bahkan dia sempat tersenyum kepada wartawan yang mewancarainya usai sidang vonis oleh Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Rabu (13/8/2025). Dengan penuh percaya diri, Yusa Cahyo Utomo ingin mendonorkan organ tubuhnya usai dijatuhi vonis mati oleh majelis hakim. Baca juga: Alasan Pembunuh Satu Keluarga Tak Habisi Anak Bungsu, Mengaku Kasihan Saat Berusaha Bergerak Tentu ini cukup aneh, namun niat Yusa Cahyo Utomo ini ternyata ada makna yang besar. Donor organ tubuh adalah proses yang dilakukan untuk menyelamatkan atau memperbaiki hidup penerima organ yang mengalami kerusakan atau kegagalan fungsi organ. Biasanya, orang akan secara sukarela menyumbangkan organ tubuhnya untuk ditransplantasikan kepada orang lain yang membutuhkan. Saya berpesan, nanti di akhir hidup saya, bisa sedikit menebus kesalahan ini (membunuh) dengan menyumbangkan organ saya, ucapnya dilansir TribunJatim.com. Baca juga: Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Kediri Ternyata Masih Saudara Sendiri, Ini Motfinya Kalau saya diberikan hukuman mati, saya siap menyumbangkan semua organ saya, apapun itu, imbuhnya. Yusa Cahyo Utomo merupakan warga Bangsongan, Kecamatan Kayen, Kabupaten Kediri. Ia adalah seorang duda cerai dengan satu anak. Yusa merupakan pelaku pembunuhan terhadap satu keluarga di Dusun Gondang Legi, Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, pada Desember 2024. Yusa menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri) Agus Komarudin (38) dan Kristina (34), beserta anak sulung, CAW (12). Anak bungsu korban, SPY (8), ditemukan selamat dalam kondisi luka serius. Yusa mengaku ia tak tega menghabisi nyawa SPY karena merasa kasihan. Tersangka meninggalkannya dalam kondisi bernapas. Alasannya dia merasa kasihan pada yang paling kecil, ungkap AKP Fauzy Pratama yang kala itu menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Kediri, masih dari TribunJatim.com. Hubungan Yusa dengan korban Kristina adalah kakak adik. Pelaku merupakan adik kandung korban. Namun, sejak kecil, Yusa diasuh oleh kerabat lainnya di Bangsongan, Kecamatan Kayen. Selama itu, Yusa tak pernah mengunjungi keluarganya yang ada di Pandantoyo, Kecamatan Ngancar. Dikutip dari Kompas.com, motif Yusa menghabisi Kristina dan keluarganya karena masalah utang dan rasa sakit hati. Yusa memiliki utang di sebuah koperasi di Kabupayen Lamongan sebanyak Rp12 juta dan kepada Kristina senilai Rp2 juta. Karena Yusa tak memiliki pekerjaan dan utangnya terus menumpuk, ia pun memutuskan bertemu Kristina untuk meminjam uang. Kristina menolak permintaan Yusa sebab sang adik belum melunasi utang sebanyak Rp2 juta kepadanya. Penolakan itu kemudian memicu rasa sakit hati bagi Yusa hingga merencanakan pembunuhan terhadap Kristina dan keluarganya. Buntut aksi kejamnya, Yusa tak hanya divonis mati, pihak keluarga juga enggan menerimanya kembali. Sepupu korban dan pelaku, Marsudi (28), mengungkapkan pihak keluarga tak akan menerima kepulangan Yusa. Keluarga sudah enggak mau menerima (jika pelaku pulang), ungkapnya. Kronologi Pembunuhan Rencana pembunuhan oleh Yusa Cahyo Utomo terhadap Kristina dan keluarganya berawal dari penolakan korban meminjami uang kepada pelaku, Minggu (1/12/2024). Sakit hati permintaannya ditolak, Yusa kembali ke rumah Kristina pada Rabu (4/12/2024) dini hari pukul 3.00 WIB. Ia menyelinap ke dapur di bagian belakang rumah dan menunggu Kristina keluar. Saat Kristina keluar, Yusa lantas menghabisi nyawa kakak kandungnya itu menggunakan palu. Suami Kristina, Agus, mendengar suara teriakan sang istri dan keluar untuk mengecek. Nahas, Agus juga dibunuh oleh Yusa. Aksi Yusa berlanjut dengan menyerang anak Kristina, CAW dan SPY. Namun, ia membiarkan SPY tetap hidup sebab merasa kasihan. Usai melancarkan aksinya, Yusa membawa barang berharga milik korban, termasuk mobil dan beberapa telepon genggam. Ia kemudian kabur ke Lamongan dan berhasil ditangkap pada Kamis (5/12/2025). Atas perbuatannya, Yusa dijatuhi vonis mati buntut pembunuhan berencana terhadap Kristina dan keluarga. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Yusa Cahyo Utomo dengan hukuman mati, kata Ketua Majelis Hakim, Dwiyantoro dalam sidang putusan yang berlangsung di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Rabu (13/8/2025), pukul 12.30 WIB, masih dikutip dari TribunJatim.com.

Terkini

Terpopuler