"Apalagi ada bahasa kudeta, terorisme, itu oke, tetapi sampaikan bahwa kemarahan ini karena pejabat anda, karena menteri anda, karena anggota DPR yang kemudian tunjangannya dinaikkan terus," sambungnya.
Dalam penilaiannya, Sri Mulyani menjadi simbol kebijakan pemerintah yang justru memperlebar jarak dengan rakyat.
“Yang namanya Sri Mulyani kenapa bisa jadi menteri seumur hidup? Sederhana saja, dia bisa melakukan finishing touch melayani semua pejabat, dinaikkan semua tunjangan, dinaikkan semua gaji pejabat,” tegasnya.
Pangi menilai kondisi tersebut membuat rakyat semakin kehilangan kepercayaan pada elite politik, sementara kebijakan ekonomi yang diambil justru dianggap tidak berpihak.
"Pejabat tidak sense of politik, tidak menyatu dengan rakyat. Itu yang terjadi hari ini," pungkasnya
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Pemuda Katolik Kritik Klarifikasi Berulang Jusuf Kalla Soal Laporan Penistaan Agama UGM
Prabowo dan Luhut Bahas Strategi Ekonomi & Digitalisasi Bansos di Istana
Analisis Sentilan JK ke Jokowi: Beban Sejarah & Akar Kekecewaan Politik Terungkap
JK Beri Sinyal ke Jokowi untuk Tertibkan Termul? Analisis Lengkap & Terkini