Ia menguraikan bahwa ketimpangan dalam Perjanjian Dagang Resiprokal ini terlihat dari dimasukkannya poin-poin yang berada di luar urusan ekonomi bilateral langsung antara Indonesia dan Amerika Serikat.
"Yang diperjanjikan akhirnya bukan cuma sekadar perdagangan. Ada persoalan geopolitik, ada larangan untuk ikut memvonis ekonomi pihak yang tidak disetujui oleh Amerika. Ada juga larangan untuk melakukan tindakan sepihak. Ini jelas tidak imbang dan tidak setara," papar Ichsan.
Sindiran terhadap Kapasitas Tim Negosiator
Berdasarkan analisis tersebut, Ichsanudin Noorsy menyindir kegagalan tim negosiator ekonomi pemerintah. Ia memberikan label yang menggambarkan kapasitas mereka yang dinilai tidak memadai.
"Makanya saya bilang mereka bukan negosiator. Bisa jadi 'janitor' jadinya. Karena tidak punya informasi yang cukup," tegasnya menambahkan.
Kritik ini menyoroti urgensi transparansi dan kesiapan informasi dalam perundingan internasional, khususnya perjanjian dagang yang berdampak luas pada kedaulatan ekonomi Indonesia.
Artikel Terkait
Mahasiswa Demo Tolak Impor 105 Ribu Mobil Pikap India, Tuntut Dirut Agrinas Dicopot
Buni Yani: Ijazah Paket C Tiyo Ardianto Sah, Berbeda dengan Kasus Ijazah Palsu
Kapan Berkas Kasus Ijazah Jokowi & Roy Suryo Cs Dilimpahkan ke Pengadilan?
Roy Suryo Klaim 99,9% Ijazah Jokowi Palsu, Ini Bukti Perbedaannya dengan Asli UGM