MULTAQOMEDIA.COM - Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkap alasan di balik pemecatannya sebagai Panglima TNI oleh Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi). Pengakuan mengejutkan ini disampaikan Gatot saat menghadiri perayaan Milad ke-5 Partai Ummat pada Minggu (3/5).
Dalam pidatonya, Gatot Nurmantyo awalnya menyoroti pentingnya Indonesia memiliki pemimpin yang tidak terikat atau tersandera oleh kepentingan tertentu. Menurutnya, untuk membawa Indonesia naik kelas, dibutuhkan kombinasi 70 persen politik, 20 persen ekonomi, 10 persen keberuntungan, dan seorang pemimpin yang berani serta bersih dari latar belakang masalah.
"Kalau Indonesia ingin naik kelas, nggak usah banyak-banyak deh, 70 persen politik, 20 persen ekonomi, 10 persen keberuntungan, dan punya pemimpin yang berani yang tidak punya masalah, tidak punya latar belakang. Tanpa itu, nggak bisa," tegas Gatot.
Gatot kemudian membeberkan bahwa Jokowi sempat memintanya untuk menaikkan pangkat seorang perwira tinggi (pati) TNI menjadi bintang tiga. Namun, Gatot menolak permintaan tersebut setelah melakukan penyelidikan mendalam terhadap perwira yang bersangkutan.
"Saya buka aja sekarang, biar Pak Jokowi marah. Ketika Pak Jokowi minta 'Pak Panglima, tolong dong ini naikkan (pati) bintang tiga'. Saya periksa, nggak ada yang saya nggak periksa," ungkapnya.
Gatot mengaku langsung menemui perwira tinggi yang akan dinaikkan pangkatnya. Dalam pertemuan tersebut, ia membongkar sejumlah dosa atau pelanggaran yang dilakukan oleh perwira tersebut. Gatot bahkan menantang perwira itu untuk melaporkan tindakannya jika tidak setuju.
Artikel Terkait
Teddy di Titik Kuasa: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri yang Mengguncang Pemerintahan Prabowo
Qodari Jabat Kepala Bakom, Siap Ubah Gaya Komunikasi Pemerintah Jadi Lebih Agresif
Ray Rangkuti Sindir Reshuffle Kelima Prabowo: Hanya Putar Posisi, Minim Figur Baru
Anggaran Pakaian Dinas Pemprov Sumsel Rp3 Miliar Disorot, Gubernur Herman Deru Buka Suara