"Setelah berat badan turun enam kilogram, saya kasih lembaran (ke perwira titipan) mau dilanjutkan atau tidak? Kalau kamu nggak mau, lapor lewat jalur mana bilang," jelasnya.
Setelah insiden itu, Gatot kembali dipanggil oleh Jokowi untuk menanyakan perkembangan perwira titipan tersebut. Gatot dengan tegas menjawab bahwa perwira itu lebih baik tetap di posisinya saat itu dan tidak jadi dinaikkan pangkatnya.
"Besoknya saya dipanggil, 'Pak Panglima, dia masih suka di sana', (Gatot menjawab) 'Oh iya pak, nggak apa-apa, bagus pak dia di sana aja. Nggak jadi naik bintang tiga dia'," tuturnya sambil terkekeh.
Akibat sering menolak permintaan Jokowi, Gatot mengaku akhirnya dipecat dari jabatan Panglima TNI. Ia menyebut pemecatan itu terjadi karena dirinya dianggap tidak nurut atau tidak patuh pada keinginan presiden.
"Dan itu berulang kali dan lama-lama ketahuan juga saya kan. Ya sudah ditendang lah saya karena nggak nurut," ujarnya.
Mantan Pangkostrad ini menegaskan bahwa ia tidak bisa tinggal diam jika posisi pimpinan TNI diisi oleh orang yang tidak kompeten. Menurut Gatot, TNI adalah institusi besar yang membutuhkan pemimpin yang benar dan bertanggung jawab.
"Tapi tidak bisa, TNI adalah institusi yang besar bukan karena besarnya. Dia tetap prajurit yang dilatih, dipersenjatai, diorganisir. Kalau pemimpinnya nggak benar, bahaya sekali. Apalagi di negara yang begitu komplek," pungkasnya.
Artikel Terkait
Teddy di Titik Kuasa: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri yang Mengguncang Pemerintahan Prabowo
Qodari Jabat Kepala Bakom, Siap Ubah Gaya Komunikasi Pemerintah Jadi Lebih Agresif
Ray Rangkuti Sindir Reshuffle Kelima Prabowo: Hanya Putar Posisi, Minim Figur Baru
Anggaran Pakaian Dinas Pemprov Sumsel Rp3 Miliar Disorot, Gubernur Herman Deru Buka Suara