MULTAQOMEDIA.COM - Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo membeberkan alasan mengapa Prabowo Subianto memilih Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024.
Gatot menilai sejatinya Prabowo tidak menginginkan Gibran.
Hal itu dilihatnya dari kacamata naluri. Bahwa menurut Gatot, pilihan itu bukan soal politik biasa, melainkan ada unsur tekanan yang sangat kuat.
“Secara naluri saya yakin beliau (Prabowo) tidak mau, apalagi kondisi seperti ini,” kata Gatot dalam sebuah video wawancara dilihat dari unggahan akun Instagram @ak4ii.hyl0s, Selasa (26/8/2025).
Gatot kemudian menyinggung soal dinamika yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK) sebelum gelaran Pemilu 2024.
Ia mengingatkan bahwa sebelumnya ada gugatan soal batas usia minimum calon presiden dan wakil presiden yang dikabulkan MK.
Tapi ada pula gugatan lain yang justru menyoal batas usia maksimum.
“Dan masuk lagi gugatan yang terkait batas maksimum. Ini umpamanya kalau nanti MK memutuskan bahwa untuk menjadi Presiden atau Wapres, batas maksimalnya 70 tahun," ungkapnya.
"Berarti akan ada Capres yang gagal. Apa maknanya? Sang paman mengancam Prabowo. Lu bisa juga nggak jadi,” tutur Gatot blak-blakan.
Tak sampai disitu, Gatot juga menguak momen deklarasi pasangan Prabowo-Gibran yang dilakukan secara mendadak, bahkan tanpa kehadiran Gibran.
“Makanya kau lihat kemarin sore pada saat deklarasi, kan berpacu dengan waktu itu. Maka sore-sore walaupun tanpa Gibran, dideklarasikan itu,” bebernya.
Gatot menyebut keputusan MK kala itu sangat mempengaruhi jalur politik dan kekuasaan.
“Ini ancaman jangan main-main. Dia nggak ngangkat, bisa berubah sekarang ini. Karena Mahkamah Konstitusi apa pun yang diputuskan adalah final. Semau-mau dia aja, kan gitu,” pungkasnya.
👇👇
TAGS
Sumber: Fajar
Artikel Terkait
PKS Tolak Kenaikan Harga BBM Subsidi 2026: Solusi Alternatif & Dampak ke APBN
Syahganda Nainggolan Sebut Hanya Soekarno dan Prabowo Presiden Ideologis, Ini Alasannya
Buni Yani Kritik KPK: Fokus ke Kasus Fadia Arafiq, Abaikan Dugaan ke Keluarga Jokowi?
Jokowi dan Langkah Politik Menuju 2029: Analisis Pakar Soal Pengaruh dan Dukungan ke PSI