Polymarket: Platform Pasar Prediksi Terdesentralisasi yang Viral di X, Ini Cara Kerja dan Risikonya

- Jumat, 22 Mei 2026 | 04:25 WIB
Polymarket: Platform Pasar Prediksi Terdesentralisasi yang Viral di X, Ini Cara Kerja dan Risikonya

MULTAQOMEDIA.COM - Jagat media sosial X di Indonesia baru-baru ini dihebohkan oleh kemunculan bursa taruhan yang menyinggung stabilitas politik Tanah Air. Perhatian publik tersedot tajam setelah platform bernama Polymarket merilis pasar prediksi berjudul "Prabowo Subianto out as President of Indonesia by…?" pada Kamis (21/5/2026). Di tengah ramainya perbincangan warganet, banyak yang bertanya-tanya apa sebenarnya Polymarket dan bagaimana cara kerjanya.

Polymarket adalah platform pasar prediksi terdesentralisasi yang beroperasi di atas teknologi blockchain Ethereum dan Polygon. Platform ini dibangun sebagai alternatif dari pasar prediksi tradisional, dengan menawarkan transparansi tinggi di mana seluruh transaksi tercatat secara publik dan tidak dapat diubah. Melalui sistem tanpa perantara ini, pengguna dari seluruh dunia dapat bertaruh pada hasil suatu peristiwa di masa depan, mulai dari isu politik, ekonomi, hingga olahraga.

Cara kerja Polymarket cukup unik. Pengguna dapat membeli posisi "Yes" atau "No" terhadap probabilitas suatu kejadian. Harga setiap posisi bergerak dinamis mengikuti aktivitas transaksi, yang pada akhirnya dianggap sebagai cerminan probabilitas pasar terhadap terjadinya peristiwa tersebut. Hasil akhir dari setiap taruhan akan ditentukan berdasarkan sumber resmi atau referensi terpercaya.

Meskipun menawarkan biaya transaksi lebih rendah dan likuiditas besar, pihak platform secara tegas memperingatkan bahwa aktivitas perdagangan prediksi ini membawa risiko kerugian finansial yang sangat tinggi. Di Indonesia sendiri, akses menuju situs Polymarket sebenarnya telah diblokir oleh pemerintah. Terkait viralnya pasar prediksi mengenai posisi Presiden Prabowo yang menyangkut simbol kenegaraan ini, hingga kini belum ada tanggapan atau pernyataan resmi dari pihak pemerintah Indonesia.

Komentar