"Di ruang publik, Riyadh menyerukan solidaritas Muslim dan mendorong diplomasi untuk menjaga posisinya di hadapan Teheran dan dunia Islam. Namun di sisi lain, Saudi tetap memandang Iran sebagai rival struktural jangka panjang yang harus ditekan," jelas Dina.
Pertimbangan stabilitas kawasan dan ekonomi domestik menjadi alasan utama Saudi menghindari konflik terbuka. Namun, kekhawatiran akan kekuatan Iran yang dapat menggerus pengaruh Saudi di kawasan tetap membayangi elite di Riyadh.
Kekuatan Iran yang Sulit Digoyahkan
Pakar lain dari Unpad, Teuku Rezasyah, memaparkan mengapa Iran merupakan target yang sulit bagi operasi militer AS. Beberapa faktor kunci antara lain:
- Semangat Nasionalisme dan Kepemimpinan: Kesadaran sejarah sebagai pusat peradaban dan kepemimpinan yang relatif didukung rakyat.
- Kekuatan Militer Mandiri: Teknologi pertahanan, termasuk peluru kendali berbagai jarak, yang dikembangkan dalam negeri.
- Kemampuan Membalas Dendam Strategis: Potensi blokade Selat Hormuz yang akan mengguncang pasokan energi global.
- Kekuatan Intelijen: Kemampuan mendeteksi dan menindak jaringan asing yang kuat.
Rezasyah memperkirakan, jika ada serangan, AS mungkin hanya akan melakukan serangan terbatas untuk menjaga citra, bukan invasi besar-besaran.
Kebingungan Sekutu AS di Teluk
Laporan Fox News yang dikutip RIA Novosti menyebutkan bahwa AS belum memberikan kejelasan rencana terkait Iran kepada sekutu-sekutunya di Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Negara-negara sekutu, termasuk Saudi, dikabarkan gagal mendapatkan penilaian situasi yang jelas dari Washington.
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan bahwa Pentagon dan Gedung Putih telah menyusun berbagai skenario serangan, mulai dari kampanye pemboman besar hingga serangan simbolis yang terbatas. Namun, tujuan strategis akhir AS masih dirahasiakan.
Dengan dua sikap yang berbeda antara jalur diplomatik yang diambil MBS dan peringatan militer dari Menhan KBS, Arab Saudi jelas sedang menjalankan politik dua kaki yang rumit. Tujuannya: melindungi kepentingan nasionalnya dengan menjaga keseimbangan yang hati-hati antara menghindari perang regional yang merusak dan mencegah rival terbesarnya, Iran, menjadi semakin kuat.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu