Namun, tekanan dari sekutu AS di Timur Tengah akhirnya membuahkan hasil. Setidaknya sembilan negara Arab mendesak pemerintahan Trump untuk menyetujui perundingan di Oman. AS akhirnya menyetujui pertemuan tersebut untuk menghormati sekutunya dan mengupayakan jalan diplomatik.
Hasil Perundingan Sulit Diprediksi
Seorang sumber Iran kepada RIA Novosti menyatakan bahwa hasil perundingan ini sulit diprediksi. "Kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS adalah tantangan utama," ujar sumber tersebut, merujuk pada langkah-langkah agresif AS dan Israel di masa lalu yang dianggap memperdalam jurang ketidakpercayaan.
Abbas Araghchi menegaskan Iran masuk ke dalam diplomasi dengan mata terbuka. "Komitmen harus dihargai. Berdiri setara, saling menghormati dan kesamaan kepentingan... adalah suatu keharusan untuk sebuah kesepakatan yang bertahan lama," tegasnya.
Dukungan Turki untuk Jalan Diplomasi
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan turut menyoroti situasi. Ia memperingatkan bahwa intervensi eksternal terhadap Iran membawa risiko bagi seluruh kawasan. "Cara paling masuk akal untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk masalah nuklir, adalah melalui diplomasi," kata Erdogan.
Perundingan di Oman ini menjadi titik penting yang akan menentukan apakah kedua negara dapat membangun kembali kepercayaan dan menemukan titik temu setelah periode ketegangan yang panjang.
Artikel Terkait
Perang Turki vs Israel: Analisis Kekuatan Militer Terbaru & Dampak Strategis Pakta Makkah
Embargo Dagang UEA ke Iran: Konflik Timur Tengah Memanas, Dampaknya bagi Ekonomi Global
Menteri Israel Ben Gvir Serukan Gaza Dikosongkan Permanen dan Minta Militer Bunuh 30-40 Warga Setiap Malam
Warga Gaza Rayakan HUT ke-81 RI dengan Lukisan Merah Putih di Tengah Reruntuhan