Sebelumnya, Donald Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran terkait program nuklir, rudal balistik, dan kebijakan domestiknya. Ia menegaskan bahwa jika diplomasi gagal, alternatifnya akan "sangat traumatis." Sejalan dengan pernyataan itu, AS telah mengumpulkan kekuatan militer signifikan di kawasan, termasuk pengiriman kapal induk tambahan, ribuan personel, pesawat tempur, kapal perusak berpeluru kendali, dan aset tempur lainnya.
Trump bahkan secara terbuka menyebut kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran. "Selama 47 tahun mereka hanya bicara dan bicara," ujarnya.
Semua Opsi Masih Terbuka Menurut Gedung Putih
Juru Bicara Gedung Putih pada masa itu, Anna Kelly, menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka, termasuk penggunaan kekuatan militer dan operasi berkepanjangan. "Presiden Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Keputusan akhir akan diambil berdasarkan kepentingan terbaik bagi keamanan nasional AS," kata Kelly.
Peringatan Keras dari Iranian Revolutionary Guard
Di sisi lain, Iranian Revolutionary Guard telah memberikan peringatan keras. Mereka menyatakan kesiapan untuk membalas serangan terhadap wilayahnya dengan menyerang seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah. Ancaman ini menunjukkan potensi konflik yang dapat dengan cepat meluas di kawasan yang sudah rentan.
Eskalasi ini terjadi dalam konteks di mana AS sebelumnya juga pernah mengerahkan dua kapal induk ke kawasan, yang direspons Iran dengan serangan balasan terbatas ke pangkalan AS di Qatar.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata Runtuh, Presiden Iran Deklarasikan Perang Total Lawan AS – Harga Minyak Meroket
AS Minta Warga di Seluruh Dunia Tingkatkan Kewaspadaan Akibat Ketegangan dengan Iran
Rudal Iran Hantam Pangkalan AS di Yordania, 50.000 Tentara Amerika Tak Berdaya
Trump Dihujat Penonton Saat Serahkan Trofi Piala Dunia 2026, Momen Kontroversial di Final Spanyol vs Argentina