Di satu sisi, Iran menyatakan tetap berkomitmen pada solusi diplomatik dan siap mengklarifikasi ambiguitas terkait program nuklir damainya. Namun, di sisi lain, Teheran memberikan sinyal tegas: jika menghadapi agresi militer, mereka akan membalas dengan menyerang semua aset pasukan musuh di kawasan sebagai bagian dari respons defensif.
Ketegangan Meningkat Usai Ultimatum Trump
Ketegangan antara AS dan Iran semakin memanas setelah Presiden Trump mengerahkan kapal perang, jet tempur, dan kekuatan militer lain ke Timur Tengah untuk menekan program nuklir Iran. Pada 19 Februari 2025, Trump bahkan memberikan ultimatum, memberi Iran waktu 15 hari untuk mencapai kesepakatan dan mengisyaratkan opsi serangan militer jika negosiasi gagal.
Jalur Diplomasi yang Terhambat
Sebelumnya, upaya perundingan tidak langsung antara utusan AS dan diplomat Iran di Jenewa sempat menunjukkan kemajuan. Namun, jalur diplomasi ini kembali runtuh setelah Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran pada Juni lalu, yang memicu perang 12 hari dan melibatkan Washington dalam pemboman situs nuklir Iran.
Peringatan terbaru dari Iran ini semakin memperjelas garis merah Teheran dan potensi konflik besar yang dapat melibatkan seluruh kawasan jika ketegangan tidak segera diredakan.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu