Menanggapi eskalasi ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaili Baghaei, menegaskan bahwa Iran akan menganggap "serangan terbatas" AS dalam bentuk apa pun sebagai tindakan agresi. Sebelumnya, perwakilan tetap Iran untuk PBB dalam suratnya kepada Sekjen PBB memperingatkan bahwa semua pangkalan dan aset pasukan musuh di kawasan akan menjadi sasaran yang sah bagi respons defensif Iran, dan AS akan menanggung konsekuensi penuh.
Pernyataan Raja Yordania Abdullah II
Di tengah ketegangan ini, Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein menekankan pentingnya solusi dialog dan politik untuk mencegah eskalasi. Seperti dilaporkan Sada News, Selasa (24/2/2026), Raja Abdullah menyatakan bahwa Yordania tidak akan memperbolehkan pelanggaran ruang udaranya dan tidak akan menjadi arena perang bagi pihak manapun.
Raja juga menyinggung masalah Palestina, menegaskan komitmennya untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan mencegah upaya Israel mengubah status quo di Tepi Barat dan Yerusalem. Dia pun menekankan pentingnya mendukung stabilitas dan integritas kawasan Suriah.
Analisis: Posisi Strategis dan Kemungkinan Skenario
Menurut Washington Post, lebih dari setengah pesawat yang baru dikerahkan tersebut ditempatkan di pangkalan udara Eropa, yang secara strategis berada di luar jangkauan sebagian besar rudal Iran. Pengerahan ini terjadi bersamaan dengan laporan The New York Times yang menyebut Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan berskala besar jika diplomasi atau serangan terbatas gagal.
Kehadiran massal aset militer AS, khususnya di Yordania, menandakan fase kesiapan yang matang. Namun, pernyataan tegas dari Raja Abdullah II menunjukkan kompleksitas politik di kawasan, di mana negara-negara sekutu AS tidak selalu sepakat dengan metode konfrontatif dan berusaha mencegah perang terbuka di wilayah mereka.
Artikel Terkait
Alasan Arab Takut Iran Diserang: Israel Bakal Merajalela & Kawasan Kacau
Wasiat Rahasia Khamenei Terungkap: Persiapan Perang Iran vs AS & Rencana Suksesi
Mike Huckabee Klaim Israel Berhak Kuasai Timur Tengah, Ini Kontroversinya
Krisis AS vs Iran 2024: Analisis Militer Terkini & Kilas Balik Pertempuran Laut 1988