- Mengutuk serangan sebagai agresi ilegal dan pelanggaran kedaulatan.
- Menyebut tindakan tersebut sebagai konsekuensi yang dapat diprediksi dari perilaku hegemonik AS di kawasan.
- Menyalahkan AS atas melemahnya perdamaian dan stabilitas global dalam setahun terakhir.
- Mendesak negara-negara di kawasan untuk mengidentifikasi agresor dan bertanggung jawab memulihkan perdamaian.
Risiko dan Peluang Strategis bagi Korea Utara
Keterlibatan Korea Utara dengan memasok senjata ke Iran membawa pertimbangan strategis yang kompleks.
Di satu sisi, konflik ini membuka peluang strategis. Baik Iran maupun Korea Utara adalah pemasok utama peralatan militer untuk Rusia dalam perang di Ukraina. Jika Iran mengalihkan persenjataannya untuk pertahanan sendiri, Korea Utara bisa mengisi celah pasokan ke Rusia, sehingga meningkatkan pengaruhnya di Moskow.
Di sisi lain, krisis ini juga menyoroti risiko bagi Pyongyang, terutama mengenai keandalan Rusia sebagai sekutu. Meski telah menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif pada 2024, respons Rusia terhadap serangan terhadap Iran sejauh ini terbatas pada kecaman diplomatik, tanpa dukungan militer nyata.
Keengganan Rusia ini memunculkan pertanyaan tentang komitmen sekutu dan posisi Korea Utara dalam kancah geopolitik global yang semakin tegang.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Kapal Perang AS di Teluk Oman, Centcom Bantah Keras
Citra Satelit Ungkap Hancurnya Pangkalan Militer AS di Kuwait Akibat Serangan Rudal Iran
Topan Jangmi Lumpuhkan Jepang: 60.000 Rumah Mati Listrik, Ratusan Penerbangan Batal
Trump Murka ke Netanyahu: Sebut Gila hingga Ancam Penjara, Perang Lebanon Jadi Pemicu