Panic Buying BBM Melanda Global, Imbas Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah memicu gelombang panic buying bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara. Kekhawatiran utama adalah potensi penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Berikut laporan situasi di beberapa negara yang terdampak.
1. Korea Selatan: Antrean Panjang dan Kekhawatiran Ekonomi
Gejala panic buying terlihat jelas di Seoul dengan antrean kendaraan yang mengular di SPBU. Harga bensin telah melampaui 1.800 won per liter (sekitar Rp21.000). Kekhawatiran warga makin menjadi karena Korea Selatan bergantung pada impor untuk lebih dari 90% kebutuhan energi, dengan 70,7% impor minyak mentahnya melewati Selat Hormuz. Laporan tentang 26 kapal tanker Korea yang tertahan di kawasan tersebut memperparah situasi, meski pemerintah memiliki cadangan minyak sekitar enam bulan.
2. Australia: Pemerintah Minta Tenang Meski Harga Naik
Di Perth, Australia Barat, ribuan pengendara mengantre panjang di SPBU. Pemerintah negara bagian meminta masyarakat tidak panic buying, menegaskan pasokan masih aman. Di Queensland, sejumlah SPBU dilaporkan menaikkan harga hingga 219,9 sen per liter. Asosiasi pemasar menyatakan mayoritas minyak Australia berasal dari Singapura, bukan Timur Tengah, sehingga masalah pasokan tidak akan langsung terjadi. Menteri Energi Chris Bowen menyatakan Australia memiliki stok bahan bakar yang melebihi kewajiban minimum hingga bulan Mei.
Artikel Terkait
Iran Ancam Serang Google & Microsoft: Dampak dan Implikasi Keamanan Siber Global
Iran Luncurkan Rudal ke Israel: Operasi True Promise IV, Dampak & Analisis Terkini 2024
Trump Bingung Akhiri Perang AS-Iran? Utusan Khusus Tak Tahu Akhir Konflik
Putra Menteri Israel Bezalel Smotrich Terluka Parah Diserang Hizbullah: Kronologi & Dampaknya