Kelompok tersebut kembali melancarkan serangan setelah jeda selama 15 bulan. Serangan pada 6 Maret juga dilaporkan melukai lima tentara Israel secara serius dan menargetkan wilayah hingga Dataran Tinggi Golan dan Haifa.
Pernyataan Kontroversial dan Permintaan Maaf Smotrich
Bezalel Smotrich sendiri dikenal dengan sejumlah pernyataan kontroversial dan rasis terhadap Palestina serta negara pendukungnya. Baru-baru ini, ia memicu kemarahan setelah menyindir Arab Saudi bisa "terus menunggang unta" jika bersikeras menjadikan negara Palestina merdeka sebagai syarat normalisasi hubungan dengan Israel.
Pernyataan yang dianggap menghina dan merusak diplomasi itu akhirnya membuat Smotrich meminta maaf. Ia mengakui ucapannya tidak pantas dan menyatakan penyesalan jika telah menyinggung pihak mana pun, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu.
Dukungan Smotrich atas Operasi Militer
Meski putranya menjadi korban, Smotrich dikenal sebagai pendukung serangan-serangan Israel terhadap Lebanon. Ia menggambarkan operasi militer sebagai kesempatan untuk mengamankan perbatasan utara Israel secara permanen, dengan merebut zona keamanan di selatan Sungai Litani. Kampanye ini telah menewaskan sedikitnya 486 orang di Lebanon, termasuk puluhan anak-anak.
Artikel Terkait
Iran Luncurkan Rudal ke Israel: Operasi True Promise IV, Dampak & Analisis Terkini 2024
Trump Bingung Akhiri Perang AS-Iran? Utusan Khusus Tak Tahu Akhir Konflik
Iran Klaim Kuasai Akhir Perang, Tanggapi Keras Ancaman Trump Soal Selat Hormuz
Iran Unggul atas AS dan Israel: Bukti Kemenangan Iran di Timur Tengah Terungkap