Isu Negosiasi dengan Iran dan Serangan Balik Israel
Menyusul telepon panas tersebut, seorang pejabat AS mengklaim bahwa Israel melancarkan operasi untuk menyerang reputasi Vance. Vance, yang dikenal sebagai penentang perang luar negeri tanpa akhir AS, memegang peran utama dalam negosiasi gencatan senjata dengan Republik Islam Iran bersama Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Pejabat AS menuduh Israel berada di balik kebocoran informasi bahwa Iran ingin bernegosiasi dengan Vance, yang dianggap lebih terbuka untuk berdeal. "Ini adalah operasi Israel terhadap JD," kata pejabat tersebut. Pejabat senior AS lain menegaskan, "Jika Iran tidak bisa mencapai kesepakatan dengan Vance, mereka tidak akan mendapatkan kesepakatan. Dialah yang terbaik yang bisa mereka dapatkan."
Ketegangan Meluas ke Isu Kekerasan Pemukim
Ketegangan bilateral ini tidak berhenti di situ. Sehari setelah percakapan telepon, outlet berita Israel yang didanai donor Partai Republik AS, Miriam Adelson, melaporkan bahwa Vance juga meneriaki Netanyahu atas masalah kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Hal ini menunjukkan spektrum perselisihan yang semakin melebar antara kedua pemerintahan.
Kesimpulan: Janji Intelijen yang Menjadi Bumerang
Insiden ini mengungkap bagaimana janji intelijen yang terlalu ambisius dari Mossad tentang perubahan rezim Iran justru menjadi bumerang. Kegagalan operasi tersebut tidak hanya membuat Netanyahu kecewa, tetapi juga memicu kemarahan dan ketidakpercayaan dari pemerintahan AS, yang diwakili oleh JD Vance. Situasi ini berpotensi memengaruhi dinamika negosiasi perdamaian dan stabilitas kawasan di masa mendatang.
Artikel Terkait
Lebih dari 300 Tentara AS Alami Cedera Otak (TBI) Akibat Serangan Iran: Data & Dampaknya
Mohamad Safa Mundur dari PBB & Peringatkan Ancaman Perang Nuklir 2026: Analisis Lengkap
Mohamad Safa Mundur dari PBB, Ungkap Pembungkaman dan Ancaman Kebebasan Berpendapat
Ketegangan Indonesia-Iran: Dampak Lelang Kapal MT Arman 114 pada Selat Hormuz