Trump juga menekankan bahwa AS menginginkan kesepakatan damai yang abadi dengan Iran. Salah satu syarat utama yang diajukan adalah memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir. Program nuklir Iran menjadi titik krusial yang membuat negosiasi damai antara kedua negara berjalan alot.
Putaran pertama perundingan damai yang berlangsung di Pakistan pada 11-12 April lalu mengalami kebuntuan. Penyebab utamanya adalah ketidaksepakatan terkait program pengayaan uranium Iran. "Saya ingin kesepakatan itu abadi. Saya ingin kesepakatan itu memastikan mereka tidak akan pernah mendapatkan, tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mendapatkan (senjata nuklir)," tegas Trump.
Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa Iran saat ini tidak mampu membuat senjata nuklir setidaknya dalam 20 tahun ke depan. Militer AS telah melumpuhkan kemampuan nuklir Iran melalui serangan pada Juni 2025 dan selama perang terbaru. Hal ini membuka peluang bagi AS untuk mencapai kesepakatan sementara dengan Iran.
Kebijakan ini menunjukkan pendekatan baru AS dalam menangani konflik dengan Iran, mengutamakan diplomasi dan kesepakatan damai dibandingkan ancaman nuklir. Dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng di kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Trump Ancam Terapkan Tarif di Selat Hormuz Jika Gagal Damai dengan Iran dalam 60 Hari
AS Setuju Bayar Ganti Rugi Rp5,3 Kuadriliun ke Iran: Ini 14 Poin Perjanjian Damai Bersejarah
Trump Mau Pecat Menhan dan Dirut CIA yang Tolak Perdamaian dengan Iran
Iran Ancam Serang Balik Israel Jika Serangan ke Lebanon Tak Dihentikan, Perjanjian Damai AS-Iran Terancam Gagal