Strategi 'Pedagang' Donald Trump
Di sisi lain, Nuning menilai perubahan sikap Donald Trump dari perintah shoot and kill menjadi ajakan good deal bukanlah kebingungan. Sebagai mantan pebisnis, Trump memainkan 'perang kognitif' untuk menghancurkan mental lawan. "Trump tahu betul apa yang dia lakukan karena dia seorang pedagang. Segala hal bisa direkayasa melalui komunikasi. Ini adalah cara membuat Iran dan proksinya mengubah rencana perlawanan," jelasnya.
Nuning meyakini bahwa di balik retorika panas di media, terdapat pembicaraan di "panggung belakang" yang melibatkan kekuatan besar seperti Rusia dan faksi-faksi Timur Tengah.
Cina Menang Banyak sebagai Mediator
Sementara AS dan Iran saling gertak, Cina tampil sebagai pemain paling cerdik. Beijing memposisikan diri sebagai mediator netral tanpa terseret konflik terbuka. "Cina mendorong gencatan senjata dan negosiasi. Mereka ingin membangun citra sebagai pembela multilateralisme. China memainkan langkah paling cerdik karena mampu memanfaatkan situasi tanpa harus terlibat langsung dalam konfrontasi fisik," tambah Nuning.
Nuning memperingatkan bahwa dunia sedang menyaksikan perang hibrida. Bukan lagi sekadar adu misil dan drone, melainkan pertempuran geoekonomi, siber, dan persepsi publik. Hal ini akan menentukan siapa yang bertahan dalam enam bulan ke depan di tengah ancaman krisis energi global.
Artikel Terkait
Praka Rico Pramudia Gugur: Prajurit TNI Tewas Akibat Serangan Tank Merkava Israel di Lebanon
Trump Sebut India dan China Hellhole, Kemarahan Global dan Krisis Diplomatik AS
Trump Perintahkan AL AS Tembak Hancurkan Kapal Penebar Ranjau di Selat Hormuz
Trump Tolak Gunakan Senjata Nuklir Lawan Iran, Desak Kesepakatan Damai Abadi