Ketika ditanya apakah Presiden China Xi Jinping dapat membantu menyelesaikan masalah Iran, Trump menjawab, "Tidak, menurut saya kita tidak memerlukan bantuan apa pun terkait Iran. Kita akan memenangkannya dengan cara apa pun. Kita akan memenangkannya dengan damai atau tidak." Ia juga mengklaim, "Angkatan laut mereka hilang, angkatan udara mereka hilang, setiap elemen mesin perang mereka hilang."
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, membela usulan negaranya untuk mengakhiri perang. Ia menyebutnya sebagai "persyaratan minimum dari setiap pengaturan yang serius dan berkelanjutan yang selaras dengan Piagam PBB."
Gharibabadi menegaskan, "Ketika pihak yang berperan langsung dalam perang, pengepungan, sanksi, dan ancaman melalui kekerasan menolak tanggapan Iran semata-mata karena itu bukan surat menyerah, maka menjadi jelas bahwa persoalan utamanya bukanlah perdamaian, melainkan pemaksaan kemauan politik melalui jalur ancaman dan tekanan."
Ia menambahkan bahwa Iran telah menyampaikan tuntutannya dengan jelas, termasuk diakhirinya perang secara permanen, kompensasi atas kerusakan, dan pencabutan sanksi ilegal. "Kita tidak bisa membicarakan gencatan senjata sambil melanjutkan pengepungan; membicarakan diplomasi sambil memperketat sanksi; atau membicarakan stabilitas regional sambil memberikan dukungan politik dan militer kepada rezim yang menjadi sumber agresi dan ketidakstabilan," tegas Gharibabadi.
Peringatan Iran: Perang Penentu Masa Depan Umat Manusia
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, juga merilis pernyataan panjang lebar. Ia memperingatkan bahwa perang AS-Israel terhadap Iran adalah perang yang akan menentukan arti 'baik' dan 'jahat' di zaman ini dan masa depan.
"Ini adalah perang antara pembohong profesional yang mengarang pembenaran atas kekejaman, dan masyarakat sombong yang membela tanah air dan martabat manusia hanya mengandalkan kekuatan dan tekad mereka sendiri," tulis Baqaei.
Ia menambahkan, "Ini adalah perang antara mereka yang keputusannya dibayangi oleh kompromi moral, dan mereka yang bertindak dengan hati nurani yang bersih. Ini adalah perjuangan yang menentukan bagi masa depan umat manusia. Ini akan menentukan apakah pencapaian peradaban yang telah dicapai dengan susah payah—hak asasi manusia, supremasi hukum, dan moralitas dasar—akan bertahan atau terhapuskan."
Artikel Terkait
Militer Arab Saudi Diam-Diam Balas Serangan Iran, Begini Kronologi Lengkapnya
Rudal Setan II Rusia Sarmat: Hancurkan AS dan Eropa dalam Hitungan Menit
Trauma Psikologis Tentara Israel Meledak, Ribuan Prajurit Diberhentikan Akibat Perang Gaza
50 Pasangan Yatim Piatu di Gaza Gelar Pernikahan Massal, IHH Turut Beri Dukungan