Menurut estimasi militer Barat, satu hulu ledak Sarmat bisa memiliki daya ledak hingga 1 megaton TNT atau lebih. Sebagai perbandingan, bom atom yang menghancurkan Hiroshima pada 1945 memiliki kekuatan sekitar 15 kiloton. Artinya, satu hulu ledak modern Sarmat bisa puluhan kali lebih kuat dibanding bom Hiroshima.
Jika satu hulu ledak berkekuatan 1 megaton meledak di atas kota besar, hampir seluruh bangunan dalam radius 3 hingga 5 kilometer dapat hancur total akibat gelombang kejut dan suhu ekstrem. Area kehancuran ini kira-kira setara dengan kawasan inti Jakarta Pusat. Dalam radius 10 hingga 15 kilometer, kebakaran besar, kerusakan bangunan berat, luka bakar massal, dan korban jiwa dalam jumlah sangat besar kemungkinan terjadi.
Ancaman Perang Nuklir: Dari Badai Api hingga Musim Dingin Nuklir
Dampak perang nuklir tidak berhenti pada ledakan awal. Para ilmuwan selama puluhan tahun memperingatkan ancaman lanjutan berupa badai api, radiasi mematikan, runtuhnya infrastruktur, gangguan listrik dan komunikasi, hingga kemungkinan terjadinya nuclear winter atau musim dingin nuklir akibat debu dan asap yang menyelimuti atmosfer bumi.
Karena itu, dalam doktrin militer modern, senjata seperti Sarmat sebenarnya bukan dibuat untuk digunakan dalam perang biasa. Fungsi utamanya adalah deterrence atau penangkal, menciptakan ancaman kehancuran total agar negara lain berpikir berkali-kali sebelum menyerang Rusia. Konsep ini dikenal sejak era Perang Dingin sebagai Mutually Assured Destruction (MAD), yaitu kondisi ketika perang nuklir diyakini akan menghancurkan semua pihak yang terlibat.
Kontroversi Uji Coba dan Masa Depan Perjanjian Nuklir Global
Meski Rusia menyebut uji coba terbaru ini berhasil, sebagian analis Barat masih meragukan apakah seluruh kemampuan Sarmat benar-benar sudah matang. Sebelumnya, beberapa pengujian rudal tersebut dilaporkan mengalami kegagalan pada 2023 dan 2024.
Di tengah runtuhnya Perjanjian New START antara Rusia dan Amerika Serikat, kemunculan kembali rudal-rudal raksasa seperti Sarmat membuat dunia kembali diingatkan pada bayang-bayang perlombaan nuklir era Perang Dingin. Perjanjian New START yang mulai berlaku pada 2011 selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis, rudal balistik antarbenua, kapal selam nuklir, dan pembom strategis yang boleh dimiliki kedua negara.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres angkat suara terkait hal ini. Ia menyebut berakhirnya New START sebagai "grave moment" atau momen yang sangat serius bagi perdamaian dan keamanan dunia. Guterres memperingatkan bahwa runtuhnya sistem pengendalian senjata nuklir terjadi pada saat risiko penggunaan senjata nuklir berada pada titik tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Setelah perang Ukraina pecah, hubungan kedua negara memburuk tajam. Rusia kemudian menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut pada 2023, termasuk menghentikan mekanisme inspeksi dan pertukaran data dengan Amerika Serikat. Meski New START secara formal masih berlaku hingga Februari 2026, banyak analis menilai sistem pengendalian senjata nuklir dunia kini praktis mulai melemah.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru bahwa dunia sedang bergerak menuju fase perlombaan senjata strategis berikutnya. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, negara-negara besar dikhawatirkan akan kembali berlomba mengembangkan rudal, hulu ledak nuklir, dan teknologi militer strategis baru seperti yang pernah terjadi pada puncak Perang Dingin abad ke-20.
Artikel Terkait
Militer Arab Saudi Diam-Diam Balas Serangan Iran, Begini Kronologi Lengkapnya
Trump Murka pada Media AS: Laporan Kegagalan Serangan ke Iran Dianggap Pengkhianatan
Trauma Psikologis Tentara Israel Meledak, Ribuan Prajurit Diberhentikan Akibat Perang Gaza
50 Pasangan Yatim Piatu di Gaza Gelar Pernikahan Massal, IHH Turut Beri Dukungan