Dengan pengalamannya dalam resolusi konflik, SBY menyebutkan bahwa negosiasi membutuhkan kesabaran, kecerdasan, dan kesiapan untuk berkompromi. Namun, faktor penentu justru terletak pada karakter kedua pemimpin.
SBY menyampaikan bahwa jika negosiasi gagal, perang besar berpotensi meletus. Namun, ia juga memberi catatan penting. "Trump dan Khamenei tidak akan gegabah. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus dibayar jika keputusannya salah," tulisnya.
Ia menjelaskan dua pertimbangan utama seorang commander-in-chief sebelum memilih perang:
- Apakah perang itu sebuah keharusan (war of necessity) atau pilihan (war of choice)?
- Apakah kalkulasi rasional menjamin bahwa perang dapat dimenangkan?
Peringatan untuk AS: Iran Bukan Irak atau Afghanistan
SBY memberikan peringatan khusus kepada Amerika Serikat. "Jangan-jangan bagi Amerika, menang perang sulit dicapai, kemudian mengakhirinya juga tidak mudah. Ingat pengalaman pahit di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan."
Pesan Humanis SBY untuk Para Pemimpin Dunia
Mengakhiri esainya, SBY menyampaikan pesan humanis yang dalam, terutama dari sudut pandang seorang mantan prajurit. "Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati (Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for)."
Pesan ini ditujukan bukan hanya untuk Trump dan Khamenei, tetapi untuk semua pemimpin dunia yang memegang kendali atas keputusan perang dan damai. Analisis SBY ini memberikan perspektif unik dari seorang mantan presiden dan pemimpin militer Asia Tenggara mengenai salah satu ketegangan geopolitik paling berbahaya di dunia.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Soroti Gugatan MK Larangan Keluarga Presiden Nyalon: Analisis Dinasti Politik
Kisah Viral Fara UIN Suska Riau: Kronologi Lengkap Dugaan Selingkuh & Kekerasan
Video Viral Mahasiswi UIN Suska dengan Pelaku Bacokan Pekanbaru: Kronologi & Motif Asmara
Kritik Mahasiswa: Analisis Strategi Advokasi & Peran Civil Society dalam Demokrasi Indonesia