Namun, rencana promosi itu berkali-kali ditolak oleh Presiden Soeharto. Soeharto merasa belum waktunya melepas Try dari posisi ajudan. "Wah, nanti dulu. Kita perlu matangkan dulu ya, Pak Jusuf," ujar Soeharto seperti dikisahkan dalam buku Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit.
Setelah didesak beberapa kali, akhirnya Soeharto memberikan izin dengan pesan khusus agar Jenderal M. Jusuf 'mengarahkan' perwira muda tersebut.
Karier Try Sutrisno Melesat Bak Meteor
Setelah 'dilepas' dari jabatan ajudan, karier Try Sutrisno langsung melesat. Ia diangkat menjadi Kasdam XV/Udayana, kemudian Pangdam IV/Sriwijaya di Palembang, lalu Pangdam V/Jaya di Jakarta. Tak lama, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.
Berdasarkan buku Kasad Jenderal Try Sutrisno, Sosok Arek Suroboyo, pada 1986 Try diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat ke-15. Kurang dari 10 tahun sejak meninggalkan posisi ajudan, ia telah memimpin Angkatan Darat.
Pada 1988, kariernya semakin menanjak dengan diangkat sebagai Panglima ABRI, menggantikan Jenderal Benny Moerdani. Jabatan ini dipegangnya selama lima tahun sebelum akhirnya terpilih menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto dari 1993 hingga 1998.
Kisah perjalanan karier Try Sutrisno dari ajudan presiden hingga wakil presiden menjadi bukti hubungan khusus dan kepercayaan besar yang diberikan Soeharto kepadanya, sekaligus menorehkan sejarah penting dalam kepemimpinan militer dan politik Indonesia.
Artikel Terkait
TNI-Polri Kuasai Markas KKB di Nabire, Amankan 561 Amunisi dan Uang Rp79,9 Juta
Operation Epic Fury: Analisis Serangan 200 Pesawat & 30 Bom yang Tewaskan Ayatollah Khamenei
Proyek Ruang Perjamuan Trump Dilanjutkan: Analisis Kesenjangan Hukum di AS
4 Alasan Dino Patti Djalal Nilai Ide Mediasi AS-Iran Prabowo Tidak Realistis