Kisah Kaisar Valerian: Tawanan Romawi yang Jadi Alat Propaganda Iran vs Barat

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:25 WIB
Kisah Kaisar Valerian: Tawanan Romawi yang Jadi Alat Propaganda Iran vs Barat

Nasib Valerian: Antara Fakta dan Propaganda

Nasib Valerian setelah penangkapan melahirkan banyak legenda mengerikan, terutama dari penulis Kristen seperti Lactantius. Disebutkan, Shapur menggunakan punggung Valerian sebagai pijakan kaki untuk naik kuda. Bahkan, kulitnya dikuliti dan diawetkan sebagai piala. Namun, sejarawan modern meragukan narasi ini, mengingat bias anti-penganiaya dari penulis Kristen saat itu.

Bukti arkeologi di Persia menunjukkan gambaran berbeda. Relief di Naqsh-e Rostam menggambarkan Shapur berkuda dengan Valerian berlutut di depannya, sering kali masih berpakaian kebesaran. Hal ini mengisyaratkan perlakuan yang lebih pragmatis. Bukti nyata adalah "Bendungan Kaisar" (Band-e Kaisar) di Shushtar, Iran, sebuah mahakarya teknik Romawi yang dibangun oleh tawanan perang Romawi pimpinan Valerian. Ini menunjukkan Shapur memanfaatkan keahlian tawanannya untuk pembangunan.

Dari Sejarah Kuno ke Propaganda Modern: Simbol "Berlutut"

Kisah Valerian tidak berhenti di buku sejarah. Narasi kemenangan Shapur I hidup kembali dalam geopolitik modern. Awal tahun ini, pemerintah Iran meresmikan patung berjudul "Kneel Before Iran" (Berlututlah di Hadapan Iran) di Teheran. Patung itu menggambarkan Shapur I di atas kuda dengan figur Valerian yang berlutut.

Patung ini jelas merupakan pesan politik. Otoritas Iran menggunakannya sebagai simbol ketangguhan nasional menghadapi tekanan Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel. Seperti diungkapkan pejabat setempat, patung itu mencerminkan "kebenaran sejarah bahwa Iran telah menjadi tanah perlawanan." Para analis melihat ini sebagai upaya membangkitkan persatuan internal di tengah ancaman konflik.

Dengan demikian, sosok Valerian telah bertransformasi. Dari seorang kaisar Romawi yang malang, ia menjadi simbol abadi tentang kehancuran kekuasaan arogan dan alat propaganda yang ampuh dalam percaturan politik dunia hingga saat ini.


Halaman:

Komentar