Salah satu faktor kekuatan Mojtaba adalah pengalaman militernya. Ia pernah bergabung dan bertugas dengan IRGC pada akhir periode Perang Iran-Irak (1980-1988). Pengalaman ini membangun hubungan yang sangat kuat dan strategis dengan institusi militer paling berpengaruh di Iran, sekaligus menjadikannya figur yang memahami dinamika pertahanan negara.
Benturan dengan Kebijakan Trump dan Masa Depan Hubungan AS-Iran
Pencalonan Mojtaba merupakan jawaban atas pernyataan Donald Trump yang pernah mengklaim ingin memberi persetujuan atas siapa pemimpin Iran. Sikap Iran ini menunjukkan penolakan terhadap intervensi asing.
Langkah ini juga berpotensi mempertajam konflik. Latar belakang keluarganya yang menjadi korban dalam serangan yang dikaitkan dengan kebijakan Trump menambah dimensi personal dalam ketegangan politik ini. Analis memprediksi, kepemimpinan Mojtaba akan berarti kebijakan luar negeri Iran yang lebih keras, dengan syarat utama genjatan senjata adalah mundurnya pasukan AS dan Israel dari kawasan.
Dengan terpilihnya figur seperti Mojtaba Khamenei, dinamika geopolitik di Timur Tengah diprediksi akan memasuki babak baru yang penuh ketegangan, sekaligus menunjukkan resistensi Iran terhadap tekanan Barat.
(Direktur ABC Riset & Consulting)
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri