AS juga meremehkan tekad Iran. Pemerintah Trump salah menafsirkan kehati-hatian Iran sebagai kelemahan, dan berasumsi keliru bahwa Teheran tak akan berani menutup Selat Hormuz demi kepentingan ekonominya. Krisis energi global yang dipicu respons keras Iran membuktikan kesalahan fatal asumsi berbasis mentalitas pebisnis ini.
Keretakan Hubungan Sekutu dan Kekacauan Pengambilan Keputusan
Perang ini mengungkap dampak buruk kecenderungan sepihak dan proses pengambilan keputusan yang kacau di bawah Trump. Peringatan dari banyak pejabat dan sekutu di Timur Tengah tentang konsekuensi bencana diabaikan, tenggelam oleh fantasi presiden tentang kemenangan mudah.
Dengan Dewan Keamanan Nasional yang terpinggirkan, suara profesional digantikan oleh keyakinan buta untuk menyenangkan atasan. Sekutu AS kini kehilangan kepercayaan pada janji perlindungan Amerika, sementara permintaan AS untuk mengeluarkan cadangan minyak strategis justru membuktikan ketidakmampuannya mengendalikan krisis yang dibuatnya sendiri.
Kesimpulan: Sebuah Bencana Strategis yang Bisa Dihindari
Perang Trump melawan Iran bukan sekadar operasi yang "melenceng", tetapi bencana yang cacat sejak dari konsep. Kegagalan ini disebabkan arogansi strategis, intelijen yang buruk, dan kesombongan terhadap sekutu. Alih-alih membuat Amerika hebat, perang ini menciptakan kekacauan Timur Tengah yang lebih besar, merusak keamanan energi global, melemahkan aliansi, dan menempatkan AS pada posisi yang lebih berbahaya. Taruhan ini gagal total, dan dunia terpaksa membayar mahal atas kesombongan dan kebodohan dalam pengambilan keputusan.
Artikel Terkait
Prada Arif Tewas dengan 10 Luka Tusuk di Tangerang, Polisi Tangkap 4 Pelaku dalam 24 Jam
Hasto Kristiyanto Kritik Keras Pelibatan Babinsa Awasi Pajak: Bentuk Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gibran Duduk di Kursi Menteri Saat Sidang Kabinet: Isyarat Politik atau Sekadar Teknis?