Sejumlah ekonom syariah dan aktivis filantropi menyoroti bahwa dana haji saja selama ini sering menuai masalah transparansi. Kekhawatiran utama adalah intervensi berlebihan pemerintah terhadap dana yang seharusnya dikelola secara sukarela dan mandiri oleh umat.
Hujatan Netizen di Media Sosial: Curiga Hingga Marah
Reaksi di media sosial jauh lebih keras. Ribuan komentar bernada hujatan memenuhi linimasa X (Twitter) dan Facebook. Sentimen publik didominasi oleh ketidakpercayaan dan kekhawatiran akan penyelewengan.
Beberapa komentar viral yang mencerminkan sentimen publik antara lain menyinggung potensi korupsi berjamaah, pertanyaan tentang akuntabilitas dana umat di masa lalu, serta kritik terhadap prioritas pemerintah yang dianggap salah sasaran. Banyak netizen mempertanyakan mengapa dana umat yang harus "dioptimalkan" padahal potensi pajak dari sumber daya alam jauh lebih besar.
Respons Kemenag yang Masih Minim dan Janji Transparansi
Hingga saat ini, Kemenag belum memberikan penjelasan memadai atas banjir kritik tersebut. Nasaruddin Umar menyatakan bahwa LPDU masih dalam tahap perencanaan dan akan melibatkan pakar ekonomi syariah.
Pemerintah berjanji lembaga ini akan dikelola secara "profesional, transparan, dan akuntabel". Namun, janji semacam itu sering kali dianggap sebagai retorika belaka oleh publik yang sudah trauma dengan kasus-kasus penyelewengan dana negara.
Rencana ini masih akan dibahas lebih lanjut, termasuk landasan hukumnya. Tanpa mekanisme pengawasan independen yang kuat dan keterlibatan masyarakat sipil yang nyata, banyak pihak memprediksi LPDU berpotensi menjadi sumber kontroversi baru yang justru merusak kepercayaan umat.
Artikel Terkait
Bocah SD Tewas Bersimbah Luka di Sragen, Polisi Buru Pelaku Kekerasan
Islah Bahrawi Terima Pesan Teror dan Dibuntuti OTK, Rumah di Madura Didatangi Oknum TNI
Kepercayaan Publik terhadap Prabowo Belum Pulih Meski Dadan Cs Ditangkap Kejagung
Purbaya Tutup Mulut soal Anggaran Perjalanan Dinas Presiden Prabowo, Begini Alasannya