Meskipun demikian, BGN memastikan tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional dalam program MBG. Langkah ini diambil untuk menghindari lonjakan permintaan bahan pangan tertentu yang berpotensi memicu kenaikan harga di pasaran.
Sebagai contoh, Dadan mengungkapkan pengalaman saat perayaan ulang tahun Presiden RI Prabowo Subianto pada 17 Oktober 2025. Saat itu, menu nasi goreng dan telur disajikan untuk sekitar 36 juta penerima manfaat. Akibatnya, kebutuhan telur melonjak hingga 36 juta butir atau sekitar 2.200 ton dalam satu hari. Lonjakan permintaan tersebut sempat mendorong harga telur naik hingga Rp3.000.
Belajar dari kejadian tersebut, BGN kini menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel dalam penyusunan menu MBG. Setiap daerah didorong untuk menyesuaikan menu dengan potensi sumber daya lokal serta selera masyarakat setempat. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan pangan sekaligus mengurangi tekanan terhadap harga komoditas di pasar.
"Kami ingin memanfaatkan potensi lokal sekaligus mengikuti preferensi masyarakat. Dengan begitu, tekanan terhadap konsumsi tidak terlalu tinggi," pungkas Dadan.
Artikel Terkait
WN China Ditangkap Ambil Sampel Tanah Tambang di Sulawesi, Visa Bisnis Jadi Kedok
Kronologi Kecelakaan Maut Tabrak Lari Eks Wakapolda Metro Jaya, Polisi Buru Pelaku
Rocky Gerung Sebut Wacana Pajak Kapal di Selat Malaka Berisiko Picu Kemarahan China dan Tekanan Global
Anne Hathaway Terima Al Quran dari Fans, Ini Penyebab Ucapan Insya Allah yang Viral