Bukti utamanya sederhana, tetapi telak, yaitu rekaman video yang telah menyebar luas. Dewan Pers juga menyatakan penyesalannya atas ucapan yang dinilai merendahkan profesi wartawan.
Setelah kritik berdatangan dari berbagai arah, Hotman akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui video di Instagram. Ia juga memberikan klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf, termasuk kepada Presiden Prabowo Subianto.
Namun, persoalannya bukan lagi sekadar meminta maaf. Luka yang ditinggalkan sudah telanjur menyebar. Permintaan maaf dapat meredakan emosi, tetapi tidak otomatis menghapus proses hukum yang sudah berjalan.
Drama ini semakin absurd ketika anak-anaknya sendiri, Frank Alexander Hutapea dan Fritz Paris Hutapea, ikut menunjukkan kekecewaan. Mereka mengkritik keputusan sang ayah membela Febrie Adriansyah dan menilai langkah itu lebih menyerupai pencitraan daripada perjuangan keadilan. Bahkan, keduanya sempat berhenti mengikuti akun media sosial ayahnya sendiri. Sebuah ironi yang membuat publik semakin geleng kepala.
Yang paling mengecewakan bukan sekadar ucapan kasar itu. Yang menyakitkan adalah pesan yang ditinggalkannya. Seolah wartawan boleh diperlakukan sesuka hati hanya karena mereka bertanya. Seolah profesi yang menjadi salah satu pilar demokrasi tidak layak mendapat penghormatan.
Tidak ada seorang pun yang kebal kritik, termasuk wartawan. Namun, kritik berbeda dengan penghinaan. Ketika seorang figur publik memilih merendahkan wartawan di depan kamera, yang tercoreng bukan hanya nama pribadinya, melainkan juga wajah penghormatan terhadap kebebasan pers di negeri ini.
Hotman mungkin memiliki deretan mobil mewah, cincin berlian, dan popularitas luar biasa. Namun, semua itu mendadak tampak kecil ketika etika runtuh di hadapan publik. Yang diingat orang bukan lagi kemewahannya, melainkan satu kalimat yang membuat jutaan mata kecewa dan satu profesi merasa dilecehkan. Itulah harga mahal dari kesombongan yang dipertontonkan di ruang publik.
(Pemerhati sosial)
Artikel Terkait
Ahli Digital Forensik Ungkap Manipulasi Replikasi Data dalam Kasus Ijazah Jokowi
Gibran Duduk di Kursi Menteri Saat Sidang Kabinet: Isyarat Politik atau Sekadar Teknis?
Gus Miftah Dituduh Terima Dana Korupsi Kereta Api Rp100 Juta, Akui Bisa Lupa
Atlet Golf Jesslyn Wijaya Diduga Diculik Saat Acara Ulang Tahun Nenek, Polisi Selidiki