MULTAQOMEDIA.COM - Kepemimpinan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU sejak awal diamanati untuk fokus pada pembinaan dan pengembangan jam'iyah demi perbaikan kehidupan kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU). Namun, dalam perjalanan lima tahun terakhir, arah organisasi dinilai menyimpang dari mandat utama tersebut.
Kritik Tajam: Program PBNU Lebih Berorientasi ke Atas
Intelektual sekaligus penulis NU, KH Ahmad Baso, menyoroti bahwa program yang dijalankan PBNU selama lima tahun terakhir lebih banyak berorientasi ke atas. Organisasi dinilai sibuk membangun akses, termasuk urusan tambang, sehingga program untuk jamaah nyaris hilang.
"Namun apa yang terjadi selama lima tahun? Maaf, program yang dijalankan lebih banyak berorientasi ke atas, sibuk mencari berbagai akses, termasuk urusan tambang. Akibatnya, program-program untuk jamaah nyaris habis sama sekali," ujarnya dalam keterangan yang dikutip Sabtu, 8 Agustus 2026.
Pembinaan dan Pengembangan Jam'iyah Dinilai Gagal Total
Ahmad Baso menegaskan bahwa pembinaan dan pengembangan jam'iyah tidak berjalan optimal. Bahkan, ia menyebut kondisi organisasi berada pada titik yang sangat memprihatinkan.
"Pembinaan nol besar, pengembangan juga nol besar," tegasnya.
Ia juga menyoroti dominasi kelompok kanan di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurutnya, hal ini menjadi akar persoalan karena organisasi lebih percaya kepada orang luar dibandingkan internal sendiri yang seharusnya menjadi rujukan.
"Dalam aspek pembinaan, kelompok kanan justru lebih mendominasi di internal PBNU. Di sinilah letak persoalannya. Lebih percaya kepada orang luar daripada kepada internal sendiri yang seharusnya menjadi rujukan," jelasnya.
Pelanggaran Khittah dan Pesan Hadratussyaikh
Ahmad Baso menilai kondisi tersebut merupakan bentuk penyimpangan dari khittah organisasi. Ia mengingatkan kembali pesan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari tentang mandat para ulama dalam menjalankan organisasi NU.
"Ini menjadi contoh bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap khittah organisasi. Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari telah berpesan kepada para ulama agar mengemban amanah ini li ishlahi al-masa'il ad-diniyyah wal-ijtima'iyyah, untuk melakukan perbaikan dalam urusan keagamaan dan kemasyarakatan," paparnya.
Seruan: Jangan Pilih Pemimpin yang Melanggar Amanah
Atas dasar tersebut, Ahmad Baso menilai kepemimpinan yang tidak menjalankan mandat perbaikan tidak layak mendapatkan mandat kembali. Persoalan ini bukan hanya menyangkut politik organisasi, tetapi juga tanggung jawab moral atas amanah yang diberikan.
"Oleh karena itu, jangan lagi memilih pemimpin yang telah melanggar amanah organisasi, yang baiatnya sudah batal sejak ia tidak menjalankan mandat tersebut. Ini menjadi catatan bagi kita semua," pungkasnya.
Artikel Terkait
Kebakaran Gedung Bapenda DKI Jakarta: Pramono Anung Perintahkan 1.000 ASN WFH Demi Jaga Pelayanan Publik
Mantan Sekda Konawe Selatan Tabrak Adik Kandung Saat Kabur Bawa Mobil Usai Digerebek Istri
Kasus PPDS UGM Viral: Sanksi Tegas Dokter Muda Dinonaktifkan 3 Bulan Usai Hina Pasien BPJS
Penangkapan 2 Komentator Pidato Prabowo Dinilai Langgar Putusan MK: Usman Hamid Sebut Tak Berdasar Hukum