Sorotan Khusus pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan utama massa aksi adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Don Muzakir, program ini tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan gizi anak, tetapi juga berpotensi besar menjadi penggerak ekonomi kerakyatan jika melibatkan produk lokal dari petani, peternak, nelayan, pedagang, dan UMKM.
"Makan Bergizi Gratis adalah investasi pada anak Indonesia sekaligus penggerak ekonomi lokal. Program ini harus diteruskan dengan tata kelola yang transparan, standar keamanan pangan yang ketat, dan keberpihakan kepada petani, peternak, nelayan, pedagang, dan UMKM," ujarnya.
Meski mendukung keberlanjutan MBG, Don meminta agar pelaksanaannya tetap diawasi. Ia menyoroti beberapa aspek penting seperti pengadaan bahan pangan, kualitas makanan, distribusi, hingga penggunaan anggaran. Semua elemen tersebut harus menjadi prioritas agar program ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Dorongan Kuat untuk Swasembada Pangan Nasional
Selain menyoroti program MBG, massa aksi juga memberikan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan nasional. Don Muzakir menegaskan bahwa swasembada pangan harus dibarengi dengan kebijakan yang berpihak pada petani, baik dari sisi produksi maupun kepastian usaha.
Beberapa poin penting yang disuarakan antara lain kemudahan akses pupuk, pembangunan infrastruktur irigasi, modernisasi alat pertanian (mekanisasi), harga panen yang menguntungkan, serta perlindungan menyeluruh bagi para petani. Dengan demikian, cita-cita kedaulatan pangan yang berkelanjutan dapat segera terwujud.
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri