Semua itu secara konsisten dijawab Jokowi dengan penundaan.
Bambang sendiri juga muncul dalam pemberitaan saat dimintai keterangan oleh Polda Metro Jaya dalam pemeriksaan kasus dugaan ijazah Presiden Jokowi yang menjadi polemik nasional.
Dalam skenario tersebut, ia juga memberi keterangan mengenai transisi nama sekolah yang menjadi sumber kebingungan publik, antara SMAN 6 Solo dan SMPP.
Atas hal tersebut Bambang pun menjelaskan bahwa ketika pendaftaran sekolah, awalnya seluruh siswa mendaftar ke SMA Negeri 5 Surakarta.
Setelah pengembangan, kelas 1.7 hingga 1.11 menjadi bagian dari SMA 6—sekolah dengan jadwal belajar siang—dan sering disebut “SMA 5 siang” oleh masyarakat.
Penjelasan ini turut memperkuat konteks sejarah almamater Jokowi, tanpa menyinggung alasan penolakan beliau terhadap grup media sosial.
Kisah ini menorehkan sisi personal dalam sosok Jokowi yang cenderung menjaga privasi dan hubungan komunikasi secara personal, bukan dalam kelompok digital yang melibatkan banyak orang.
Sikapnya yang konsisten menolak seluruh bentuk grup online alumni mencerminkan pilihan gaya komunikasi yang bersifat privat dan langsung antar individu
Sumber: Wartakota
Artikel Terkait
KPK Jamin Status Mahasiswa Unsoed Aman dan Kuliah Tetap Normal di Tengah Kasus Dugaan Pemerasan
Kronologi Lengkap Pencopotan dan Penangkapan Lodewyk Pusung: Fakta Telepon Teddy Indra Wijaya hingga Sidang Praperadilan BGN
Wafa Ahdina Mundur dari Unhan demi Pertahankan Hijab: Kisah Lengkap di Balik Keputusan Besar
KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Unsoed: Rektor dan Wakil Rektor Terjaring Dugaan Pemerasan Seleksi Mandiri