Menurut Rocky, kondisi ini terjadi karena struktur teknokratis lebih banyak dikuasai oleh para "dealer" atau pedagang kekuasaan, bukan oleh pemimpin sejati.
Waspadai Otoritarianisme yang Merangkak Naik
Rocky Gerung turut mengingatkan ancaman creeping authoritarianism atau otoritarianisme yang merangkak naik. Untuk melawannya, penguatan komunitas epistemik menjadi kunci untuk menjaga nalar publik tetap rasional.
"Mem-back up negeri ini dengan ide dan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik menjadi grammar of the town. Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya Jogja tetap kritis," tambahnya.
Demonstrasi sebagai Ekspresi Alamiah Pelajar
Rocky Gerung juga menanggapi keresahan pelajar mengenai ruang partisipasi. Ia berpendapat bahwa ketika kanal formal tidak berfungsi optimal, demonstrasi muncul sebagai bentuk ekspresi yang alamiah.
"Kalau universitas marah, kanalisasinya apa? Pasti demonstrasi. Jadi kalau pemerintah menganggap demonstrasi berbahaya, mereka sendiri yang menciptakan kondisi sehingga hanya demonstrasi yang bisa menjadi bentuk partisipasi generasi," pungkas Rocky Gerung.
Artikel Terkait
IPW Kritik Keras Febrie Belum Ditahan, Desak Prabowo Copot Jaksa Agung ST Burhanuddin
Perubahan Posisi Duduk Gibran di Sidang Kabinet: Ini Penjelasan Mensesneg
Prabowo Syok Temukan Kerusakan Indonesia Stadium Akibat Salah Urus, Dana Rp Ribuan Triliun Raib
Sidang Etik 6 Pimpinan KPU RI: Pelanggaran Administrasi Dokumen Pencalonan Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019