Menurut Rocky, kondisi ini terjadi karena struktur teknokratis lebih banyak dikuasai oleh para "dealer" atau pedagang kekuasaan, bukan oleh pemimpin sejati.
Waspadai Otoritarianisme yang Merangkak Naik
Rocky Gerung turut mengingatkan ancaman creeping authoritarianism atau otoritarianisme yang merangkak naik. Untuk melawannya, penguatan komunitas epistemik menjadi kunci untuk menjaga nalar publik tetap rasional.
"Mem-back up negeri ini dengan ide dan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik menjadi grammar of the town. Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya Jogja tetap kritis," tambahnya.
Demonstrasi sebagai Ekspresi Alamiah Pelajar
Rocky Gerung juga menanggapi keresahan pelajar mengenai ruang partisipasi. Ia berpendapat bahwa ketika kanal formal tidak berfungsi optimal, demonstrasi muncul sebagai bentuk ekspresi yang alamiah.
"Kalau universitas marah, kanalisasinya apa? Pasti demonstrasi. Jadi kalau pemerintah menganggap demonstrasi berbahaya, mereka sendiri yang menciptakan kondisi sehingga hanya demonstrasi yang bisa menjadi bentuk partisipasi generasi," pungkas Rocky Gerung.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia