"Tapi dengan kebijakan yang pas, fiskal dan moneter pada waktu itu, kita masih bisa tumbuh 4,6 persen. Jadi kita cukup cermat bisa mengendalikan hal itu," jelas Purbaya.
Pelajaran serupa juga dapat diambil dari periode 2011 ketika harga Brent berkisar 110–120 dolar AS per barel, di mana indikator ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan. Begitu pula pasca pandemi Covid-19, ketika harga minyak kembali menembus 100 Dolar AS per barel, ekonomi Indonesia tetap bertahan dan menunjukkan pemulihan.
Pentingnya Kebijakan yang Tepat
Berdasarkan catatan historis tersebut, Purbaya menegaskan bahwa gejolak harga energi global tidak serta-merta membuat ekonomi nasional terpuruk. Kunci utamanya terletak pada kemampuan pemerintah dalam merancang dan menjalankan kebijakan fiskal, moneter, serta strategi lainnya secara tepat dan responsif.
“Artinya kalau kita punya kebijakan yang pas, moneter maupun fiskal dan kebijakan bapak nantinya, walaupun global ekonomi harga minyak gonjang-ganjing, kita punya cara atau pengalaman untuk mengendalikan dampaknya ke perekonomian. Jadi kita nggak perlu takut Pak," tandasnya kepada Presiden Prabowo.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan sikap pemerintah untuk tidak terpancing oleh narasi pesimis yang beredar di media sosial, dan lebih mengedepankan data serta pengalaman nyata dalam mengelola perekonomian negara.
Artikel Terkait
Refly Harun Beberkan Alasan Rismon Sianipar Minta Restorative Justice ke Jokowi, Ternyata Ini Pemicunya
Rismon Sianipar Temui Jokowi di Solo, Bawa Oleh-Oleh & Akui Ijazah Asli
Mobil Pickup Mahindra India untuk Koperasi Desa Tiba di Sukabumi, Benarkah?
Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong Ditangkap KPK: Kronologi OTT & 13 Orang Diamankan