Kepemimpinan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, selama dua periode dinilai telah menciptakan ketimpangan ekonomi yang sangat tajam antara kelompok miskin dan kaya di Indonesia.
Sejak memimpin pada periode 2014-2019 dan 2019-2024, peta kekayaan konglomerat Indonesia yang sebelumnya dikenal dengan istilah "9 Naga" telah berubah drastis. Jumlahnya bukan lagi sembilan, melainkan telah mencapai 50 orang. Di sisi lain, warga miskin tetap berada dalam kondisi kemiskinan yang stagnan.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, dalam peluncuran dan diskusi buku berjudul "Kebangkitan Kembali Otoritarianisme di Indonesia: Dasawarsa Kepemimpinan Jokowi".
"Jadi bukan 9 (naga/konglomerat), 50 orang yang paling kaya, itu kekayaannya terus melesat. Dan tahun 2024, 50 orang yang paling kaya ini setara 50 juta orang Indonesia. Di tahun 2026, (kekayaan 50 konglomerat) setara 55 juta orang Indonesia, dan ketimpangannya itu dipupuk dari Rp2.508 triliun di 2019 melesat menjadi Rp4.651 triliun," kata Bhima.
Bhima menjelaskan, kekayaan para konglomerat ini melesat berkat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Jokowi, salah satunya adalah kebijakan hilirisasi.
"Siapa yang antek asing, yang menjual hilirisasi ke China? 80 persen lebih tujuan ekspor kita ke China. Begitu kita butuh mobil listrik, baterai, kita impor habis-habisan," jelasnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan Buka Suara: Tak Menyesal Bantu Jokowi, Tegaskan Keputusan Masa Lalu Sesuai Konteks
Larangan Demo di Bundaran HI Menuai Kritik Tajam: LBH Jakarta Tegaskan Polisi Jangan Ngarang Soal Objek Vital Nasional
Peta Kekuatan Pilpres 2029: Siapa King Maker di Balik Layar Perebutan Kursi Presiden?
Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp2 Miliar, Pakar Hukum dan Ade Armando Buka Fakta Riwayat Pendidikan di Singapura-Australia