"Negara yang menerapkan good governance, menekan korupsi, dan memiliki kepastian hukum. Selama ini syarat itu tidak terpenuhi," tegasnya. Akibatnya, investor memilih hengkang dari Indonesia.
"Jangan salahkan faktor global. Ini masalah internal yang serius," ucap Ubed. Ia menambahkan, jika pemerintahan saat ini disebut sebagai aristokrasi, hal itu ada benarnya karena gagal membangun kepercayaan.
Tanda-tanda aristokrasi yang dimaksud meliputi merajalelanya korupsi, tidak adanya good governance, nepotisme, dan hilangnya kepercayaan publik. "Pola-pola nepotisme masih ditumbuhkan," tambahnya.
Meskipun Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi besar-besaran, nilai tukar rupiah dinilai masih belum stabil. "Kondisi sudah berat. Bagaimana rakyat dan dunia internasional bisa percaya jika nepotisme masih terjadi?" pungkasnya.
Artikel Terkait
Prabowo Peringatkan Pemimpin Pembohong: Dosa Besar dan Pengkhianatan Terhadap Rakyat
Ancaman Kudeta Merambat dan Militerisme di Indonesia: Analisis Bahaya Tersembunyi bagi Demokrasi
Roy Suryo Menang Praperadilan, Pengamat: Kemenangan Rakyat Indonesia
Ribuan Buruh Akan Demo di Depan Kemenkeu Tuntut Pajak JHT 0 Persen